Masjid “Kolam Ikan” Andi Djuanna

Masjid, berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah, yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Di Indonesia, terdapat beberapa masjid yang didirikan dengan penuh ciri khas dan keunikan tersendiri. Tujuannya tidak lain untuk menarik minat para jemaah untuk bisa berbondong-bondong sholat berjamaah, ataukah sekedar berkunjung untuk melihat kebudayaan di masjid tersebut. Ada masjid Muhammad Cheng Ho dengan nuansa Tionghoa nya di surabaya. Ada juga masjid An Nurumi di Solo dengan arsitektur ala rusianya. Di sulawesi selatan sendiri, terdapat Salah satu masjid yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya berupa terdapat kolam ikan tepat di bawah masjid tersebut. Masjid itu bernama Masjid Andi Djuanna yang terletak di kabupaten Barru.

Masjid Andi Djuanna Barru
Masjid Andi Djuanna Barru

Tepat 5 KM dari pusat kota barru, terdapat sebuah masjid terapung yang terletak di samping jalan poros barru-pare-pare. Masjid yang didirikan sekitar tahun 1990 dan 1991 ini mempunyai ciri khus berupa kolam ikan yang tepat berada di bawahnya. Setidaknya terdapat ribuan ikan mujair dan mas yang dihuni di kolam itu dengan hiasan bunga teratai.. Karena jumlah ikannya yang semakin banyak, Ikan-ikan yang ada di masjid itu pun kadang di jual juga dengan harga 5000 rupiah per ekornya.

Ikan air tawar di kolam Masjid Andi Djuanna
Ikan air tawar di kolam Masjid Andi Djuanna

Untuk merasakan lebih dekat dengan ikan-ikan tersebut, pengurus masjid juga menyediakan stand pembelian pakan ikan dengan harga 1.000 rupiah per bungkusnya. Banyak pengunjung (warga sekitar dan para Safar), utamanya anak kecil rela bermanja di hadapan orang tua mereka untuk dibelikan pakan ikan tersebut. Dan benar saja, keceriaan mereka semakin muncul ketika ribuan ikan tersebut berdatangan menghampiri mereka.

Jumlah pengunjung paling ramai adalah pada hari sabtu di sore hari. Khusus di hari itu, pembelian pakan ikan ini bisa habis setengah karung. Adapun hasil dari pembelian pakan ini akan digunakan pengurus masjid untuk beberapa keperluan, seperti Membayar rekening listrik, Intensif pegawai masjid, keperluan transportasi untuk para da’i dan khatib, perawatan prasarana masjid dan untuk mengelola ketersediaan pakan ikan di hari berikutnya.

Kotak pakan ikan Masjid Andi Djuanna
Kotak pakan ikan Masjid Andi Djuanna

Di sisi belakang masjid juga tak kalah kerennya, terdapat kawanan bunga teratai yang saat itu masih kuncup. Mungkin tinggal kodok nya saja yang kurang di taman teratainya itu. Sedangkan di samping masjid, terdapat beberapa gazebo yang digunakan beberapa pengunjung untuk beristirahat dan makan siang.

Bunga Teratai
Bunga Teratai

Untuk Dokumentasi video, bisa dilihat pada tautan youtube di bawah atau pada link berikut :

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Riuh di Air Terjun Batulappa Barru

Terletak kira-kira 10 km dari pusat kota barru, tepatnya di desa batulappa. Batulappa yang berarti batu bersusun menggambarkan keadaan asli dari air terjun yang bertingkat-tingkat. Riuh suara dan indahnya panorama bebatuannya membuat yang pernah mengunjunginya seperti terpanggil kembali untuk mengaguminya.

Air terjun batulappa. Ya, begitu penduduk menamakannya. Selain karena letaknya yang tepat berada di dusun batulappa (desa tompo, kecamatan barru), juga karena arti dari batulappa itu sendiri yang memiliki makna “Batu Bersusun”, persis dengan penggambaran dari keindahan air terjun ini.

Jarak dari kota barru ke lokasi wisata ini mencapai kurang lebih 10km perjalanan darat. Setelah melewati jembatan besar di pusat kota, carilah “Jalan Pahlawan” di sebelah kanan (bila dari makassar) maka akan diantarkan menuju ke desa tompo. Perjalanan darat yang dilalui lumayan menghambat disebabkan karena banyaknya berlubang. Oh iya, tak lupa di sepanjang jalan juga banyak ditemukan penjual “Bongkahan batu” dadakan yang menjajakan hasil pahatan dan gurindanya.

30 menit perjalanan berlalu, singgah lah di sebuah dusun batulappa, tepatnya lagi di perkampungan pangie. Mobil pengantar dititip sementara di pekarangan rumah warga sekitar. Sampai lupa, disini kami melakukan perjalanan sebanyak 11 orang.

Jalur Pematang Sawah menuju Air Terjun Batulappa
Jalur Pematang Sawah menuju Air Terjun Batulappa

Perjalanan kaki pertama dilakukan dengan melewati hamparan sawah yang luas, mungkin sekitar 800 meter kami menapaki pematang sawah milik warga. Suasana hijau dan semilir angin yang membisik telinga menjadi hiburan tersendiri bagi saya pribadi yang selalu menyendiri. Untuk jalur ini, tak ada kendala.

Masuk ke tantangan kedua, jalur mulai menanjak dengan sudut elevasi sekitar 45 derajat. Butuh tenaga extra dan fisik yang prima untuk bisa melewati ini. Saking beratnya, salah 1 anggota terpaksa menghentikan perjalanan menuju “tujuan” dikarenakan fisik yang sudah lelah. Saya pun yang sering naik gunung memang sempat ngos-ngosan melewati jalur itu. Tapi semua terbayarkan ketika melihat “Permadani Hijau” atau hamparan sawah petani yang dilewati tadi. Hijau, dan sangat tertata rapi seperti lapangan sepak bola. Cuci mata di sela-sela pengambilan nafas. heheheheh

Panorama Persawahan Batulappa
Panorama Persawahan Batulappa

Kami melanjutkan lagi perjalanannya , terdapat lagi jalur yang menanjak namun tak se-ekstrim jalur sebelumnya. Tak lama kemudian, terdengar gemuruh air yang menandakan air terjunnya sudah dekat. Dengan semangat ditambah dengan rasa penasaran tingkat tinggi, saya mencoba berlari untuk melihatnya.

Alhamdulillah, riuhnya air itu terdengar sangat jelas. Bahkan jatuhnya sudah terlihat. Walaupun jarak jatuhnya air itu hanya sekitar 1 meter, tapi puaslah diri ini menikmati perjalanan. Sesekali saya “memanjakan” kaki dengan membiarkannya seperti dipijit oleh derasnya air, dan sesekali juga saya sempatkan untuk mengabadikan indahnya air terjun ini dalam bentuk gambar dan video.

Air terjun batulappa
Air terjun batulappa

“Ayo kita ke atas lagi”, kata salah seorang teman. Saya pun agak heran, saya sempat mengira ini adalah tujuan kita. Ternyata masih ada lagi keindahan yang menanti disana. Rasa tak sabaran lagi yang mengendalikan diri ini sehingga tak sadar saya pun terjatuh dengan posisi “Tulang Ekor” bersentuhan pertama kali dengan ujung batu. Rasanya seperti dunia berhenti berputar. Sangat sakit. Di sekitar sungai pun ternyatan banyak sekali lumut yang menempel di bebatuan. Jadi harus hati-hati !!!

Ekspedisi pun berlanjut, agak sulit menemukan jalur di sekitar pinggir sungai. Disaat itu saya berfikir seertinya air terjun ini memang masih sangat sepi pengunjung. Dengan modal Insting sambil mencari jejak-jejak kecil akhirnya mengantarkan kami semua ke air terjun tingkat berikutnya. Tingginya lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, mungkin sekitar 4 meter. Sama seperti tadi, saya masih mengira ini adalah tujuan akhir perjalanan, tapi ternyata keindahan lainnya tetap setia menanti di atas.

Air Terjun Batulappa
Air Terjun Batulappa

Akhirnya, setelah melewati tingkatan yang ke dua tadi, sampailah saya melihat deretan batu yang lebar tertutupi derasnya air. Sangat indah! saya seperti berada di air terjun parangloe namun dihiasi dengan banyak pepohonan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan segera mendekatinya. Saya dan tim pun bergegas menuju kesana.

“ALHAMDULILLAH”, saya sudah sangat yakin bahwa inilah “tujuan” rihlah kita. Jernih, bersih, sangat jauh dari keramaian kota. Rasa lelah benar-benar terbayar ketika memandangnya. “ALLAHU AKBAR”, tak henti hentinya hati ini bertakbir melihat kuasaNya.

Air Terjun Batulappa
Air Terjun Batulappa

Rombongan bersegera untuk memanjakan diri yang lagi berkeringat itu tepat di bawah jatuhnya air. Segar tentunya, apalagi ketika selesai melakukan aktivitas pendakian. Banyak ragam cara mereka dalam mengekspresikan kegembiraan. Yang jelas, semua kegembiraan mereka tak luput dari rekaman video.

Di salah satu spot air terjun, terdapat sebidang batu yang agak luas. Di tempat itu kami memanfaatkan untuk melaksanakan sholat dzuhur yang dijamak dengan sholat ashar (dengan alasan safar). Adzan dikumandangkan dengan indah oleh salah satu rombongan, sedangkan yang lain bergegas untuk mengambil wudhu. Jadi ingat, beberapa bulan yang lalu agak kesulitan mendapatkan air dalam berwudhu. Namun ketika berada di air terjun ini, terasa mendapatkan rezeki air yang “terlalu” banyak. 🙂

Kami mulai melaksanakan sholat. Karena Struktur batu agak kasar dan tidak rata, sempat membuat kaki dan dahi saya mengalami sedikit kesakitan. Namun semua bisa tertutupi dengan nikmatnya udara sejuk dan suasana alam yang begitu asri dalam dekapan sholat. Jujur, baru pertama kali saya merasakan sholat di kawasan air terjun ini.

Halaqah Tarbiyah Ibnu Taimiyah
Halaqah Tarbiyah Ibnu Taimiyah

Setidaknya, saya benar-benar bersyukur dengan nikmat penglihatan ini, karena bisa melihat lagi salah satu “syurga” yang ada di indonesia ini. Saya pasti akan ke tempat ini lagi. Kalau bukan bersama teman komunitas, ya setidaknya bersama istri kelak. 🙂

Syukran

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Terjebak Di Mimpi Nunu (review blog)

Begini ceritanya…

Tiba-tiba saya berada di sebuah rumah besar. Namanya Nunu Sang Pemimpi dengan Tagline “Dream, Pray, And Action“. Terdapat banyak ruang (baca:arsip) di dalamnya yang siap untuk di jelajahi. Setiap kali ingin masuk ke salah satu ruangan, terdapat sebuah toko yang selalu menawarkan dagangannya. Saya cuma bilang, “nanti dulu yah”!.

Oke, Saya mulai mencoba menjamahinya satu per satu. Dimulai dengan arsip yang paling tua. Arsip itu tertulis pada tanggal 17 April 2011 (sudah sangat lama). Saya buka dan ternyata, ada sambutan hangat dari sang pemimpi. Mungkin disitulah dia memulai eksistensinya untuk menuliskan semua mimpi-mimpinya.

Setelah disambut hangat dengan tulisan “Selamat Datang“, saya mencoba membuka pintu ruangan di sebelahnya lagi. “Tok Tok Tok”. “Cii Luk Ba“, wah ternyata sang pemimpi ingin memberi kejutan yang lain. Saya mencoba mencari tahu aktivitas di ruang mimpinya ini. Oh, ternyata dia masih berusaha memantapkan niatnya untuk merapikan arsip-arsip tulisannya dengan memilih warna (template) dan menyusun tata letak (layout) arsip-arsipnya.

Pencarian pintu untuk keluar ke mimpi ini masih saya lanjutkan. Hingga akhirnya saya terjebak lagi ke sebuah ruangan yang penuh dengan penghargaan pribadi sang pemimpi ini. Sepertinya sang pemimpi ini memiliki banyak prestasi. Prestasi seperti blogger choice award, one lovely blog award, award for my inspiration blog, dan juga liebster award. Sempat kagum dengan pencapaian si pemimpi ini. “kapan yah ada blogger yang mau berikan saya award? (bicara dalam hati)”.

Saya membuka ruangan berikutnya. Saya sempat sedikit bersyukur karena menemukan pemandangan alam yang berarti saya sudah keluar dari mimpi ini. Ternyata ekspektasiku salah. Saya masih terjebak di mimpi nunu lagi. Saya melihat aktivitas dia sedang menikmati indonesia dengan berkunjung ke kodingareng keke , bugis waterpark bahkan ke tempat laskar pelangi (belitung). Suatu tempat yang memang masih jadi mimpi bagi saya.

Saya terus berusaha untuk keluar hingga melewati lebih dari 129 pintu. Hmm, saya yakin pintu yang ke 130 adalah yang terakhir. Saya kembali membuka arsip yang dia tinggalkan di ruangan itu. Oh, ternyata si nunu menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke “Lapak” Planetyar. Sepertinya ada kesamaan antara si nunu dengan sang pemilik planetyar. Sama-sama suka cerpen.

Habis melewati pintu ke 130, tiba-tiba alarm handphone berdering. Saya terbangun dalam keadaan ruangan yang gelap. Oh, sepertinya saya sudah keluar dari mimpi si nunu.

*****************************************************************************************

Setelah menelusuri mimpi tadi, saya mencoba untuk menuliskan beberapa kejadian menarik yang saya sukai dari si nunu ini seperti :

  • Bisa dikatakan sebagai Pro-Blogger bila dilihat dari usia blog dan konsistensinya dalam menuliskan artikel.
  • Setiap kegiatan menarik wajib dituliskan. Kegiatan-kegiatan seperti mengikuti event, kopdar, lomba, liburan dituliskan dengan rapi.
  • Kegiatan yang sebenarnya tidak penting amat pun dituliskan, seperti sedang masak, kena macet, bahkan menunggu angkot pun ada tulisannya tersendiri. Tapi, sang penulis bisa menceritakannya dengan baik sehingga pembaca bisa betah berlama-lama ataupun merasakan seperti yang dialami penulis.
  • Kalau kegiatan tidak penting saja bisa dituliskan dengan terstruktur rapi, apalagi kalau hanya menulis sebuah puisi atau sajak. Saya suka dengan karya sastranya.
  • Kontent original.  Sepertinya menulis memang salah satu passion dari blogger ini.

 

Hal yang masih agak mengganjal bagi saya pribadi (cuma masalah selera) :

  • Tata letak iklan sepertinya sedikit “merusak” dari kerapihan template blognya.
  • Sitemap ataupun menu tidak berfungsi. Menu yang tersedia tidak berfungsi (link #) sehingga tidak mengalami perubahan letak.

Sekian penelusuran dari saya.
Teruskan obsesimu sang pemimpi, suatu saat mungkin engkau akan menjadi sang Pemimpi(n) 🙂
Assalamu Alaykum …

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Perjalanan Panjang ke Bawakaraeng

Bawakaraeng, Tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat awan (baca : pendaki) khususnya di Sulawesi Selatan. Gunung yang memiliki makna “Bawa” berarti Mulut dan “Karaeng” yang bermakna Tuhan memiliki ketinggian 2830 mdpl. Secara Geografis terletak di Kabupaten Gowa. Untuk melakukan pendakian di gunung tersebut, pendaki umumnya memilih jalur Lembanna yang juga terletak di kabupaten gowa. Sedangkan untuk jalur lain dapat dilakukan di Jalur Tassosso’ Sinjai Barat.

Lembanna, 28 Februari 2015. Tak ada rencana yang matang untuk datang ke desa ini. Semua serba mendadak, mungkin karena lumayan pusing memikirkan nasib draft tugas akhir yang tak beres-beres hingga memaksa untuk mencari udara segar agar bisa merefresh kembali fikiran atau sekedar lebih mendekat dengan sang Illahi. Pemberangkatan dimulai dari Makassar jam 21:30 hingga sampai di lembanna sekitar jam 23.00. oh iya, seperti biasa saya perginya sendiri lagi. Saya sendiri numpang menginap di rumah Tata Rasyid. Memang rumah warga yang ada di desa ini biasanya digunakan oleh para pendaki untuk sekedar bercerita dan beristirahat.

Menuju Pos 1

Pagi, jam 6:00, Suara anjing dan kicauan burung sambut mentari, saya memulai melangkahkan kaki dengan tekad untuk dapat menuju ke puncak. Hanya dengan bermodal beberapa info dari blog tentang trek ke gunung ini di google, membuatku agak percaya diri melangkah sambil membawa keril yang kira-kira beratnya sampai 20kg (yah setidaknya kisah cintaku lebih berat dari keril yang kuangkut). Di Perjalanan ini saya sangat dimanjakan dengan sejuknya suasana desa yang dihiasi dengan terangnya bunga-bunga hias dan hijaunya kebun sayur milik warga. Kol, sawi, bawang dan sayur-sayur lainnya memang komoditi andalan di desa ini. Jadi tak perlu heran bila penglihatan serasa hijau di trek ini.

Di tengah perjalanan ,tepatnya di hutan pinus, saya menemukan 1 kelompok yang kebetulan juga ingin menuju ke puncak bawakaraeng. Wah, sepertinya saya tak perlu repot-repot lagi menggunakan insting untuk sekedar nebak-nebak jalur pendakian , toh mereka ternyata sudah berpengalaman kesana. Mereka 4 orang, ada Ramadhan, Ekki, Aji, dan 1 lagi temannya yang saya lupa namanya. Mulailah saya berkenalan dan mengakrabkan diri.

 

Perjalanan ke Pos 1 Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 1 Bawakaraeng

1 Jam setelah melakukan langkah pertama dari desa lembanna dan penuh susah payah akibat trek yang landai, akhirnya kami tiba di pos 1. Di Pos ini terdapat 2 jalur pemisah yaitu jalur menuju ke puncak bawakaraeng (kanan) dan jalur menuju ke lembah Ramma (Kiri). Di Pos ini lumayan luas, namun tak terdapat sumber air.

Pos 1 – Pos 2

Kondisi hampir sama pada perjalanan menuju pos 1, di pos 2 juga jalur sangat landai dan waktu tempuh untuk mencapai pos ini sekitar 45 menit. Umumnya pendaki beristirahat disini sekedar relaksasi dan mengambil air karena terdapat anak sungai di pos ini. Saya sedikit terhibur dengan tulisan di trangulasi pos 2. “Berapa banyak harga yang dimiliki kalau sifat tamak dan tidak bersyukur, memiliki seluruh isi bumi pun tidak akan bahagia“.

Triangulasi Pos 2 Bawakaraeng
Triangulasi Pos 2 Bawakaraeng

Pos 2 – Pos 3

Sepertinya rute ke Pos 3 adalah rute yang paling pendek. Waktu tempuh dari pos 2 hanya 15 menitan saja. Masih terdapat aliran air dengan intensitas kecil. Lumayanlah buat cuci muka. Lagi-lagi dibuat sedikit sadar dengan tulisan yang ada di triangulasi pos ini. “Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayangmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan“.

Triangulasi Pos 3 Bawakaraeng
Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayanganmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan

 

Pos 3 – Pos 4

Sudah mulai memasuki hutan lumut. Karena ketinggian sudah mencapai lebih dari 1800 meter, maka hanya tanaman tertentu saja yang dapat tumbuh subur di kawasan ini seperti lumut dan jamur yang saya temui. Jarak antara pos 3 ke pos 4 kira-kira sekitar 800 meter dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Sampai di trangulasi pos ini, betis sudah mulai nyut-nyut, detak jantung berdetak kencang, dan aliran nafas dari mulut mulai tergesa-gesa. Istirahat yang cukup lama mungkin solusi terbaik saat itu.

Perjalanan Ke Pos 4 Bawakaraeng
Perjalanan Ke Pos 4 Bawakaraeng

 

Pos 4 – Pos 5

Setelah istirahat dan nafas sudah mulai stabil, kami melanjutkan lagi perjalanan ke pos 5. Ternyata jarak ke pos 5 juga terbilang jauh, sekitar 1 km. Medan masih dikuasai tanaman lumut. jalur yang semakin menanjak memaksa kami untuk singgah beberapa kali untuk merenggangkan “baut” di lutut dan mengatur nafas.

Setelah 50 menit berlalu, akhirnya sampai juga di Pos 5. Di Pos ini cukup luas dan sangat terbuka, umumnya para pendaki memutuskan untuk mendirikan tenda. Di Pos ini terdapat sebuah sungai yang cukup deras. Mungkin karena kelaparan akibat melakukan aktivitas pendakian yang lumayan panjang, Kami memutuskan untuk makan “berat” dengan memasak nasi dan mie instan.

Perjalanan ke pos 5 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 5 Bawakaraeng

Pos 5 – Pos 6

Perut sudah terisi, saatnya melanjutkan perjalanan. Sempat melihat sebuah puncak di depan mata, saya pun bertanya ke salah satu teman “puncaknya yang itu yah?”. “Bukan, kalau sudah melewati puncak itu, kita turun lagi, terus naik puncak lagi, dan turun lagi”, balas si Aji menjawab. Entah jawaban si Aji ini membuat kaki semakin merinding. Tapi ini sudah sepertiga jalan, sayang bila harus kembali.

Pada kawasan antara pos 5 dan pos 6 dihiasi pohon pohon yang telah terbakar. Jadinya seperti hutan mati. Jarak menuju ke pos 6 kira-kira 900 meter dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Perjalanan ke Pos 6 Gunung Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 6 Gunung Bawakaraeng

 

Pos 6 – Pos 7

Keadaan trek pos 6 ke pos 7 agak mirip dengan trek pos 5 ke pos 6. Kita harus melewati “hutan mati” yang telah terbakar dan hutan lumut.

Perjalanan ke pos 7 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 7 Bawakaraeng

 

Pos 7 – Pos 8

Inilah trek yang paling “PHP” dan paling berat menurut saya. Bagaimana tidak, jalur yang dilewati harus naik-turun-naik-turun-naik-turun gunung. Sempat berpikir kenapa jalurnya gak diratakan saja, kenapa harus turun dan naik lagi. Tapi mungkin disitulah “nikmatnya” pendakian. Jarak antar pos sekitar 1.5 KM dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Tiba di pos 8, kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat. Terdapat sebuah sungai yang cukup deras yang berdinding lumut.

Perjalanan ke Pos 8 Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 8 Bawakaraeng

 

Pos 8 – Pos 9

Setelah beristirahat semalam penuh, kami melanjutkan perjalanan ke pos 9. Sebelumnya kami cukup menyimpan sebagian barang-barang di tenda pos 8 agar tidak terlalu terbebani lagi ke puncak. Jarak menuju ke pos 9 sekitar 400 meter dan sangat landai. Walau begitu, kami mulai disuguhkan dengan pemandangan terbuka kawasan puncak bawakaraeng.

Di Pos 9 terdapat jalur untuk menuju ke pos 1 kawasan Tassosso (Sinjai barat) dan juga terdapat sumber mata air. Banyak juga pendaki yang memutuskan untuk menginap di pos ini.

Perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng

 

Pos 9 – Pos 10 (Puncak)

Cihhuyy, sedikit lagi. Masih dengan pemandangan terbuka kami harus harus melangkahkan kaki ke puncak selama 20-an menit. Saya pribadi sudah mulai kehabisan nafas, mungkin karena pengaruh ketinggian di atas 2600 meter yang menyebabkan oksigen semakin menipis. Ditambah dengan kabut tebal dan dingin yang benar-benar membuat badan semakin kaku. Tapi sedingin-dinginnya suasana Pos 10, lebih dingin lagi sikap dia ke saya akhir-akhir ini (curhat). Di Pos 10 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Terdapat tiang bendera dan sumber air (sumur) namun agak kurang bersih terlihat.

Perjalanan ke Pos 10
Perjalanan ke Pos 10

 

Puncak (2830 mdpl)

Alhamdulillah, sampai juga di Top of Gowa. Inilah 2830 mdpl pertamaku. Sangat Indah pemandangan dari atas. Disini kita bisa melihat awan yang seolah-olah menyerbu bukit. Seperti di syurga, ingin berlama-lama disini.

Satu hal terpenting yang saya dapat di pendakian kali ini, kalau ingin melihat “syurga dunia” berupa hamparan awan dan bukit harus membutuhkan waktu 10an jam, toh apalagi bila ingin melihat syurga sebenarnya di akhirat, pasti membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dibandingkan cuma melakukan pendakian.

 

Puncak Bawakaraeng
Puncak Bawakaraeng

 Sekali lagi, Ini Bukan Syurga, Ini Indonesia

Untuk dokumentasi Perjalanannya, bisa dilihat pada video di bawah

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Syahadat Sang Muallaf

Selasa, 25 Februari 2014. Lelah dan ngantuk setelah beraktivitas seharian di 2 kampus yang berbeda. Kampus pertama adalah UNHAS untuk kepentingan bimbingan tugas akhir yang ternyata saya lupa bawa draft dan Kampus kedua adalah UIN Alauddin, untuk menghadiri rapat yang ternyata rapatnya juga tidak jadi. Kebetulan tiap selasa malam diadakan taklim di sebuah masjid di pusat kota dekat toko Al*ska. Saya lumayan cepat tiba disana agar bisa curi waktu untuk tidur-tiduran (walau tidur di waktu ashar sangat tidak dianjurkan).

Adzan maghrib pun berkumandang, untungnya tidur di masjid, jadinya “terpaksa” bangun. Kalau tidurnya di rumah, mungkin jam 12 malam baru bisa bangun. Jemaah pun banyak berdatangan untuk menunaikan masjid ditambah niat mereka juga untuk mengikuti taklim.

Usai sholat maghrib, Imam Masjid mengumumkan bahwa ada seorang “kafir” ingin masuk islam. “Wah, kejadian langkah nih!”. Buru-buru saya mengambil handphone bermodal kamera untuk merekam prosesi sakral ini. Di depan pintu tampak seorang lelaki yang berfisik mirip seperti saya (kurus) dengan baju koko putih dan celana model “botol”. Nama lelaki itu adalah Fery.  Perlahan lelaki yang didampingi walinya itu duduk di tengah-tengah para jemaah yang sebelumnya sudah membentuk setengah lingkaran.

Apa alasan saudara ingin memeluk Islam?“, tanya Imam Masjid secara “curiga”. Wajar saja sang Imam harus merasa curiga terlebih dahulu mengingat banyak kasus seseorang yang pura-pura masuk islam sekedar untuk bisa menikahi wanita pujaannya yang beragama islam, yang bila mereka menikah nantinya sang wanita akan di”murtad”kan atau dimasukkan ke agama asal sang lelaki.

Sekali lagi saya tanyakan, Apa yang melandasi saudara ingin masuk Islam?“, Imam pun bertanya lagi. “Yang mendasari saya ingin masuk islam, saya ingin mengenal lebih dekat tentang islam, dan ingin mengetahui apakah agama islam itu benar atau tidak“. Sang calon Muallaf pun menjawab dengan agak deg-degan.

Nanti setelah itu datang saja kesini untuk belajar-belajar islam secara dasar , nanti akan kami bimbing“, sang Imam mencoba memberi arahan berikutnya dan berharap calon mu’allaf untuk tidak “putus” hanya sekedar mengucapkan syahadat saja tapi tidak melanjutkan untuk menuntut ilmu syar’i.

Saudara Fery, ikuti saya! BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM“, imam pun mulai memberi arahan. “BISMILLAHIRAHMANIRAHIM“, jawab lelaki itu dengan lafadz yang memang bukan seperti ucapan basmalah pada lazimnya.

********************** dan detik-detik hijrah pun itu tiba **********************

Imam : “asyhadu alla ilaha illallah
Fery : “ashadu alla ilaha illollah
Imam : “asy ! bukan as . Karena maknanya bisa berbeda.
Fery pun berusaha mengulangi pelafalan yang tepat sampai 2 kali. kemudian imam pun melanjutkan lagi
Imam : “Wa asyhad anna muhammadarrasulullah“.
Fery pun berusaha mengulangi dan membalas “Washadu” sampai 2 kali. Imam pun dengan sabar mengulangi pelafalan “Wa asyhad anna muhammadarrasulullah” hingga si fery dengan mantap melafalkan 2 kalimat syahadat secara lengkap.
Imam : “Aku Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH“.
Fery : “Aku Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH“.
Imam : “Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad Nabi dan Rasul Allah“.

Imam, para jemaah, dan saya sendiri yang menyaksikan prosesi ini dengan lantang mengucapkan “ALLAHU AKBAR“. Bergetar, dan tangis tentunya mengalir mendengar ucapan syahadat dari akhi ini. Walau lafaznya agak berbeda dan sedikit terbata-bata, setidaknya dia benar-benar sudah berhijrah. Sejujurnya, saya iri dengan si Fery ini.

Sang Imam pun menawarkan untuk si Fery apakah ingin “menambah” nama atau “mengganti” nama. Ada tawaran namanya diganti dengan “Yusuf” atau ditambahkan “Muhammad”. Salah satu Imam menjelaskan keutamaan memiliki nama “Islami” yang baik salah satunya adalah mempermudah di saat Hisab.

Setelah melalui perundingan dan mungkin adanya “gejolak batin” di pikiran sang Muallaf, akhirnya dia memutuskan untuk menambahkan saja kata “Muhammad” di depan nama aslinya menjadi “Muhammad Fery”. Sekedar informasi, Nama lengkap di KTP beliau tidak berubah, Nama baru yang islami ini hanya digunakan untuk pergaulan dan menandakan keislamannya.

Prosesi Pengucapan dua kalimat syahadat
Prosesi Pengucapan dua kalimat syahadat

Di sesi terakhir, pengurus masjid memberikan sebuah mushaf dan terjemahnya untuk sang muallaf untuk dipelajarinya sambil menyarankan untuk Muhammad Fery mengikuti pengajian dan taklim rutin yang diadakan di masjid tersebut.

ALLAHU AKBAR

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .