Bulukumba, Tentang Seikat Gelang dan Harapan

Jumat, 30 januari 2015. Entah sudah berapa kali saya berkunjung ke bulukumba. Sudah menjadi kebiasaan berangkat menuju ke bulukumba (dari makassar) setelah maghrib. Alasannya simple, supaya bisa nginap di masjid pertengahan perjalanan, bangun subuh, dan bisa tiba lebih pagi disana dan melihat semangat adik-adik SD bersekolah sambil memakai bedak yang lumayan menor tapi lucu dilihatnya.

Sawah di bulukumba, Balleanging

Sawah di bulukumba, Balleanging

Setelah melewati beberapa ruas sawah yang tersusun rapi, sampai lah di sebuah SDN yang sangat penuh cerita di masa-masa KKNku. SDN 239. “Ihhh, kak awal !” , “Ihhh, ada ka ka en !!” , “wih, kak awal tambah panjangmi jenggotnya, tambah tuami“. Yah, itu kata sambutan mereka yang disertai dengan senyum sumringah. Saya tak bisa pastikan kenapa mereka bisa tersenyum. Apakah mereka merasa kangen, ataukah mereka tahu kalau saya datang, maka saatnya adalah membuat prakarya baru. 🙂 . Tapi , memang sudah saya niatkan untuk mengajarkan mereka.

Sebelum mengajar, sempat masuk dulu ke kantor guru. yah, sekedar cerita basa-basi tentang kabar, keadaan kuliah, kapan nikah, sampai cerita pun mulai bergeser ke batu bacan. setelah lama bercerita, guru pun langsung menawarkan, “Masuk mki kalau mau mengajar, nacariki itu muridta”. Dengan Sigap saya siapkan bahan ajarnya, cuma beberapa ikat tali kur saja dengan berbagai warna. Kali ini aku ingin ajarkan ke mereka membuat gelang dari tali kur.

Sampai lah di kelas mereka. Supaya adil dan tidak ada “kecemburuan”, kelasnya pun digabung menjadi 1. Ada Kelas 4, 5, dan 6. Sebelumnya saya pernah mengajar mereka bahkan kelasnya pun digabung dari 6 kelas, dan rasanya lumayan lelah. Tapi saya yakin , kali ini mereka akan sangat antusias dalam berkreasi.

Saya memanggil satu persatu nama mereka untuk mengambil 2 buah tali. awalnya teratur, tapi mungkin karena anak-anak yang lain kelamaan menunggu, jadi mereka langsung berebutan. Saya menghentikan sejenak pendistribusian tali, dan langsung bilang ke mereka, “Kakak cuma mau membagikan yang tenang duduknya“. wuih, langsung adek-adeknya yang tadinya agresif tiba-tiba jadi kalem. Ada yang gak mau berkedip sama sekali, ada yang mulutnya gak terbuka sama sekali, bahkan ada juga murid yang masih sempat-sempat ingusnya keluar, namun dibiarkan keluar begitu saja, mungkin alasannya biar gak berisik ketika ditarik kembali ke hidung.

Bahan yang saya bawa ternyata tak sebanding dengan jumlah murid yang harus diajarkan, yah dengan berat hati ada beberapa murid tidak kebagian. Jadinya harus memutar otak bagaimana cara mereka juga tetap aktif dalam belajar.

Setelah semua tali kurnya terdistribusi, mulailah saya memperagakan cara membuat talinya. Agak sulit menjelaskan ke mereka semua, mengingat perbedaan umur dari mereka otomatis tingkat kepahaman dalam menerima pesan pasti berbeda-beda. Ditambah dengan sulitnya mempraktikkan membuat gelang dalam posisi berdiri di depan mereka. yah terpaksa melantai, supaya tali yang saya buat bisa terlihat susunan lilitan dan polanya. Mungkin sekitar 3 kali penjelasannya saya ulang. Sudah banyak metode yang kupakai, mulai dari suara dibuat sok-sok imut, pakai menyanyi, bahkan bergerak dan mengunjungi satu persatu murid agar melihat hasilnya. “ini, kalo disini kepalanya, maka tali sebelah ini yang diikat”, entah kata “kepala” dari tali itu darimana saya dapat. Barangkali memang saya gak punya bakat dalam menjelaskan materi. hahahah

Suasana Belajar

Suasana Belajar

Wuihh, kak, sa tau’ mi“. Sepertinya, sebagian murid-murid mulai paham cara buatnya, akhirnya mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Saya menginstruksikan kepada murid yang sudah paham untuk mengajarkannya ke murid yang tidak paham. Gunanya, agar mereka bisa saling berbagi pengetahuan, bisa berinteraksi dengan adik-adiknya (junior).

Saling Kerjasama

Saling Kerjasama

lagi serius

lagi serius

30 menit berlalu, akhirnya gelangnya pun sudah banyak yang jadi. Terlihat wajah bangga mereka telah berhasil membuat 1 prakarya lagi. Ada yang langsung memakainya dan dipamerkan ke temannya, ada pula yang berusaha membantu temannya yang belum kelar. Senang melihat mereka yang peduli dengan temannya.

Gelang karya mereka

Gelang karya mereka

Setelah pembelajaran prakarya, saya melanjutkan dengan pelajaran “Berani Bicara” tentang profesi yang diidam-idamkan adik-adik. Terdapat beberapa kertas yang kusediakan sebelumnya yang berisi beberapa jenis profesi seperti Dokter, Bidan, Ketua KPK, Polisi, Tentara, Penjual Mainan dan masih banyak lagi. Beberapa anak saya panggil untuk mengambil salah satu yang ia cita-citakan kemudian “mengikrarkan”nya di depan kamera. hihihihi, tampak banyak yang malu-malu, tapi ada juga yang sangat percaya diri.

Tentang Cita-cita SDN239

Tentang Cita-cita SDN239

Untuk adik-adik yang belum kebagian bahan, saya janjikan untuk datang lagi bulan depan mengajarkan mereka membuat prakarya lain. Yah, mudahan terlaksana lagi ! 🙂 . Setelah ingin pulang, beberapa dari mereka menghampiri untuk minta salaman, dan mereka juga punya harapan agar saya kesini lagi untuk sekedar menjenguk dan mengajarkan mereka lagi dalam membuat hal-hal baru. Inilah satu dari sekian banyak alasan yang membuatku senang mengunjungi tempat ini.

untuk melihat semua kekacauan dan keseruannya, bisa dilihat pada video berikut

Terima kasih untuk senyum kalian, adik-adikku :*

About awalone

Tholibul Ilmi, sang JOLANG (Jomblo Petualang), Suka Anak-anak (Bukan Phedo), Demen ama yang berhijab besar, Suka dengan Sunrise, Senja dan Awan, Paling geli kalo ada yang bilang gagah (karena sangat jarang), Pekerja Keras, Programmer System WannaBe.

awalone

Tholibul Ilmi, sang JOLANG (Jomblo Petualang), Suka Anak-anak (Bukan Phedo), Demen ama yang berhijab besar, Suka dengan Sunrise, Senja dan Awan, Paling geli kalo ada yang bilang gagah (karena sangat jarang), Pekerja Keras, Programmer System WannaBe.

You may also like...

32 Responses

  1. putra says:

    mantap bro
    terimakasih telah berbagi ilmu dengan murid-murid yang ada di Butta Panrita lopi
    kami sangat mengapresiasi hal ini, semoga ke depannya akan ada lagi hal yang seperti ini,,, Amin

    View Comment
  2. Saya juga senang membuat gelang dari tali kur. Ada juga yang namanya disebut brachelet… 🙂

    View Comment
  3. Fatmawati Adam says:

    senang nya O:)

    View Comment
  4. Rahma says:

    mkin bgus kak tlsanx n kembgkan trus kreatftasx kak n tlsan ne membwt pembca sdkit trhbur dg adx cnda’an mski sdrhana py dpt d’phami

    View Comment
  5. uga says:

    pengorbanan, pengabdian, dan keikhlasan waw suatu bentuk apresiasi diri dalam seni keterampilan yang patut diacungi jempol, good idea.

    View Comment
  6. Fany says:

    kereeenn..
    sederhana namun ceritanya menghibur, bikin minder (gak tauka buat bgituan) dan bikin cemburu (mau bisa jalan2 juga dan berasa ingin kembali ke lokasi KKN juga minimal menyapa bapak ibu rumah disana).

    videonya lucu.
    ketahuan deh kalo tidak sadar kameranya itu ternyata sadar kamera.
    adik-adiknya menggemaskan sekali 😀

    View Comment
    • awalone says:

      hehehehhe, susah jadi model yang sok2 gak liat kamera, karena pada akhirnya akan liat kamera ji juga … si fany lebih punya pengalaman dalam mengajar anak-anak. bahkan lebih tau kejiwaan anak-anak. saya cuma mengajarkan dengan caraku, cara bermain 🙂 …

      View Comment
  7. Unyu-unyu nah kak awal…. wkwkwk

    View Comment
  8. Ghaziya Hafiza says:

    kereenn kak …. sangaat menarikk 😀
    lucu lucu anaknya.. ^_^

    View Comment
  9. aineblume says:

    Seru! Selain heboh sendiri, saya juga jadi terharu. :’)
    Senyum anak-anak ini hangat dan mereka bahagia dengan sungguh-sungguh!

    Kapan-kapan, saya dan teman2 diajak dong, kakak Awal… ^_^

    View Comment
  10. Dhyan Hasyim says:

    Super Sekali anak Muda, jarang saya menemukan anak muda yng tingkat kepeduliannya seperti ini. kebnyakan anak muda sekarang sibuk urus batu Bacan wkwkwkwkw

    View Comment
  11. Cyberzilla says:

    ececece…….luar biasa kaka 🙂

    View Comment
  12. {^.^},,, says:

    Sepertinya kaka sudah menjadi penulis yang baik yah. Bisa membuat pembaca seolah-olah berada dalam sebuah cerita duduk manis menyaksikan berlangsungnya sebuah cerita yang digambarkan. Ketika membaca, entah saya merasa seperti lucu sendiri, senyum-senyum sendiri seolah-olah saya berada ditengah-tengah mereka sedang menyaksikan kekonyolan,keseruan dan semangat antusias mereka.

    *sedikit saran
    Saya memang bukan seorang penulis, hanya ingin menjadi pembaca yang baik demi terciptanya karya yang baik pula.
    Em, mungkin sebaiknya dalam sebuah cerita/tulisan yang kaka tulis tidak menggunakan dua kata yang apalah istilanya itu saya sementara lupa. Contohnya jika dalam sebuah cerita/tulisan dari awalnya memakai kata-kata aku mungkin tidak usah memakai kata-kata saya lagi, agak janggal menurut saya. Em satu lagi entah saya juga tidak tahu apakah dalam sebuah tulisan seperti ini harusnya menggunakan kata-kata baku atau tidak tapi mungkin kaka bisa pikirkan sendiri bagaimana kalau kata-kata yang kaka masukkan tidak dimengerti oleh sebahagian pembaca seperti “saya BILANG kepada mereka”
    Yap itu saja, sudah cukup panjang. “Semoga bisa lebih bagus lagi”

    View Comment
  13. Agus says:

    ente super gan….hahaha videonya lucu, agak terharu juga….apalagi pas bagian foto “menikalah denganku” terenyuh rasanya, ini video propose paling menyentuh untuk ane gan…iya, jawabannya iya eiiit *jadi salah fokus >__<

    tulisannya bagus, hanya saja Aku belum terbiasa dengan Aku 🙂 P.S. karna banyak yg nge-share link nya, sy jadi tertarik untuk berkunjung hahaha terjebak dalam pusaran, terbawa arus kemudian terdampar :p

    View Comment
    • awalone says:

      sip gan … namanya juga masih belajar menulis, jadi kadang gak konsisten dalam menggunakan kata. btw, bisami kira2 ini jadi videographer di kelas inspirasi ? 😀 hahahahha

      View Comment
      • Agus says:

        ente super gan….hahaha videonya lucu, agak terharu juga….apalagi pas bagian foto “menikalah denganku” terenyuh rasanya, ini video propose paling menyentuh untuk ane gan…iya, jawabannya iya eiiit *jadi salah fokus >__<

        tulisannya bagus, hanya saja Aku belum terbiasa dengan Aku 🙂 P.S. karna banyak yg nge-share link nya, sy jadi tertarik untuk berkunjung hahaha terjebak dalam pusaran, terbawa arus kemudian terdampar :p

        komentar sy kepotong, wal….ini yg lengkapnya BTW sudah sangat bisa mi jdi relawan dokumentator Kelas Inspirasi., daftar mi wal nda perlu ji video panjang2 :))

        View Comment
  14. Hastira says:

    kreatif dan kelihatan menyenangkan!!!!

    View Comment
  15. terima kasih gan telah berbagi di Bulukumba, itu kampung halaman ane…. jadi kangen, pengen pulang… hikhikhik

    View Comment
  16. timie says:

    keren…..!

    terimakasih sudah menebar inspirasi di Butta Panrita Lopi…
    tulisan n dokumentasinya…. mantaap…!! bikin rindu kampung halaman…

    View Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons