Gunung Bulusaukang

Bulusaukang, pertama kali tau Bulu (Gunung) ini dari komunitas Makassar Backpacker yang katanya sangat keren karena bisa melihat kelap-kelip lampu di kota makassar. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, perjalanan naik motor mungkin sekitar 30 menit (gak pake rem). Tepatnya di kecamatan Tompo Bulu, Maros. kalo dari makassar, belok kanan saja ketika melewati bandara lama, terus-terus hingga melewati Asrama Kodam Kariango, hingga masuk di sekitar pucak.

Masalah persiapan, saya pun masih seperti kegiatan-kegiatan pendakian sebelumnya. Cuma bermodal semangat tinggi (tanpa olahraga) dan dibekali 2 roti yang berharga seribu dan 2 bungkus energ*n. Mungkin karena terlalu menganggap pendakian kali ini cukup mudah mengingat ketinggian gunung ini katanya “hanya” 500an mdpl. Lagian saya pun selalu berpikiran, kalau masalah asmara saya mungkin jauh lebih berat dari sekedar melakukan pendakian beribu-ribu mdpl. 3:)

Sabtu, 24 Januari 2015. Pendakian saya lakukan seorang diri, mungkin karena takut merepotkan teman-teman nantinya. Niat kesana pun murni untuk jalan-jalan saja dengan modal rasa penasaran, sekalian juga ingin menuliskan ucapan selamat untuk teman komunitasku yang sudah yudisium di puncak nantinya.

oke, Sampailah di suatu masjid, lupa juga dengan nama masjidnya. yang jelas, tepat di depan masjid itu sudah membentang si saukang. Saya cukup percaya kalau memarkir motor di sekitar masjid itu masih aman. Dengan sedikit percaya diri, menelusuri jejak-jejak yang masih membekas di sepanjang perjalanan. Awalnya hanya melintasi padang rumput yang luas, ditemani sapi-sapi yang dititipkan di padang itu.

Setelah melewati padang rumput, terdapat sebuah sungai kecil yang memisahkan dataran pemukiman warga dan daerah hutan saukang. cukup deras alirannya, hingga membuatku hampir jatuh dan tak bisa bangkit lagi #ehh. Masih ada sekumpulan sapi disitu. jadi masih cukup “ramai” saya rasa.

Sungai sudah dilewati, saatnya melewati “hutan” bambu. jalur pendakian masih jelas terliat dengan banyaknya jejak kaki maupun jejak sapi yang tertinggal. Sudut elevasi gunung mulai meninggi, lumayan lelah juga karena lintasannya licin, tapi masih aman lah.

Oke, hutan bambu sudah terlewati. Sekarang harus melintasi deretan batu-batu kecil yang lumayan licin. Entah apa yang membuat bulu kudukku tiba tiba langsung merinding. saya coba melihat di sekeliling, namun tak ada hal-hal yang menakutkan saya liat. Setelah berjalan di bebatuan, sempat terpeleset sedikit hingga tangan terjatuh. Dan benar saja, ada kaki seribu besar saya lihat, pantas saja dari tadi merinding. Mungkin ini salah satu hewan yang kadang buat saya merinding. Tak tahu juga apa sebabnya. dengan tergesa-gesa saya langsung bangkit untuk menghindari hewan tersebut.

Dengan suasana cemas, saya melanjutkan perjalanan. Sialnya, saya memang berada di “markas” si kaki seribu tersebut. setiap langkah mungkin saya bisa melihat hewan tersebut. Sekali lagi, saya tak takut, cuma langsung merinding saja melihatnya. Untungnya ini hewan ini buta, berjalan lambat. Tak bisa kubayangkan bila ukurannya seperti anak kucing, bisa melihat dan bisa terbang.

Mungkin jumlah yang saya lihat sepanjang perjalanan sekitar ratusan ekor. Entah, Apa rasanya bila berada di suatu tempat asing, sendiri, dan dikelilingi ratusan hewan yang membuatmu merinding. Sampai sampai sedikit bernyanyi untuk menghibur diri.

Naik naik ke puncak gunung, Tinggi tinggi Sekali

Kiri-Kanan Kulihat Saja, Banyak Kaki Seribu -_-

Setelah lama dibuat menderita batin dengan melewati segerombolan hewan tersebut, selanjutnya tiba di bongkahan batu besar. Puncak Saukang terlihat jelas dari batuan tersebut. Kalau dikira-kira, mungkin sekitar 10 Meter lagi ketinggiannya. Yah, istirahat dulu. Lumayan Tenaga agak terkuras karena panik. Roti 2 buah yang sudah dipersiapkan terpaksa harus saya habiskan untuk mengembalikan tenaga. Tapi ternyata kurang, Sedikit sadar juga ternyata memang saya terlalu menyepelehkan masalah logistik. Pembelajaran berharga untuk saya :) .

Tenaga sudah mendingan , selanjutnya meneruskan perjalanan. Sialnya , tak ada satupun jalur yang saya lihat untuk menuju ke puncak. Saya sudah mengelilingi sekitar bebatuan, tapi memang tak ada jalur yang nampak. sekarang ada 2 opsi, apakah memaksa lanjut agar bisa melihat keindahan puncak dan menuliskan ucapan selamat yudisium teman di atas sana, ataukah menyerah dulu dan mundur untuk mencari aman. Sempat bimbang, terpaksa saya tidak ingin mengikuti ego untuk memaksakan diri naik ke puncak. Mungkin, “Mundur” adalah keputusan yang paling tepat.

Perjalanan Turun dari 3/4 saukang saya mulai dengan kebingungan. Dalam hati berkata “Lewat mana meka tadi itu??”. Bingung sebingung-bingungnya, berusaha mencari jejak kaki, tak ketemu-ketemu. Bukannya petunjuk saya temukan, lagi-lagi segerombolan kaki seribu saya dapatkan. Saya cuma bisa bilang, “Tidak takut mka, sudah biasama lihatko”. Terpaksa cuma pakai insting saja, cukup lewati dataran yang menurun. Yang saya pikir saat itu bagaimana caranya saya sampai di sungai, karena itu cuma satu-satunya tempat penanda yang saya ingat. Saya turun, tapi sungainya tidak dapat-dapat. Saya malah masuk ke daerah yang tak saya jumpai sebelumnya. “Wahh, Nyasar nih kayaknya”. Tetap harus berpikir positif, pokoknya saya harus turun kembali.

Adzan ashar mulai terdengar, saya masih sibuk mencari sungai kecil. Akhirnya saya dengar suara aliran air dari kejauhan, sayangnya cuma aliran kecil tapi setidaknya penanda kalau jalan saya memang sudah benar. saya ikuti terus aliran air itu dan Alhamdulillah, Benar saja aliran itu mengantarkan saya menuju ke sungai.

Apesnya, Saya juga lupa, di bagian mana sungai tadi saya lalui, karena memang banyak potongan-potongan jalan menuju ke rumah penduduk. Masih dengan modal “insting” dan “nekat”, saya memilih salah satu jalur, dan Alhamdulillah saya sampai di rumah warga dan terus menuju ke jalan raya.

Lagi-lagi apes, saya sudah sampai di jalan raya, tapi dalam hati berkata lagi, “Ini dimana? Kok jalan awalnya beda dengan jalan akhirnya?”. ternyata saya nyasar lagi, sempat bertanya-tanya ke warga tentang keberadaan masjid, ternyata saya lewat sekitar 500 meter. lumayan melenceng juga nyasarnya. Alhamdulillah , Sampai di masjid dengan selamat sentosa.

Masih Apes lagi? ketika ingin pulang, tiba-tiba kunci motor hilang. sempat berpikir, mungkin kuncinya tertinggal di bebatuan besar tempat istirahat. Sempat ingin kembali ke gunung untuk nyari kunci, tapi ah gak usah lah. Mending nyari bengkel saja untuk “hack” kunci motornya. Ketika mulai mengangkat motor, datang seorang remaja masjid menghampiri, dan bilang “Tabe’, ini kunci motorta tertinggal tadi disini”. “ALHAMDULILLAH !!!”. Seperti lepas 2 paku di kepala, begitu melegakan. Uang di dompet tinggal 65ribu, saya kasi saja 50ribu untuk ucapan terima kasih ke beliau walau sempat dia tolak. sekali lagi, “ALHAMDULILLAH”.

Mungkin Ekspedisi bulusaukang ini bisa dikatakan gagal, tapi setidaknya banyak pelajaran yang saya dapatkan. paling penting adalah,

  1. kenali medan/gunung yang akan dilalui. buatlah penanda jalan yang sudah dilalui, namun jangan sampai merusak tanaman disana.
  2. Persiapkan fisik se-fit mungkin. modal semangat tak cukup untuk bisa mengantarmu ke puncak (kecuali puncak kelelahan).
  3. Logistik harus dipersiapkan semaksimal mungkin, kegiatan outdoor memang menguras kalori yang besar. kalau cuma bermodalkan 2 roti seharga seribu/satu , mana bisa bikin kenyang.
  4. Kalau bisa, cek dulu motornya, siapa tau kuncinya masih nempel di motornya.
  5. jangan takut kaki seribu. hehehehehh

sekian, Insya ALLAH pendakian berikutnya masih akan saya lanjutkan. saya masih ingin melihat syurga itu :)

 

Bukan kegagalan yang kutakuti, tapi tak adanya ilmu dan pengalaman baru yang kudapatkan setiap hari . @awalone

Profile photo of awalone

About awalone

Tholibul Ilmi, sang JOLANG (Jomblo Petualang), Suka Anak-anak (Bukan Phedo), Demen ama yang berhijab besar, Suka dengan Sunrise, Senja dan Awan, Paling geli kalo ada yang bilang gagah (karena sangat jarang), Pekerja Keras, Programmer System WannaBe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>