Riuh di Air Terjun Batulappa Barru

Terletak kira-kira 10 km dari pusat kota barru, tepatnya di desa batulappa. Batulappa yang berarti batu bersusun menggambarkan keadaan asli dari air terjun yang bertingkat-tingkat. Riuh suara dan indahnya panorama bebatuannya membuat yang pernah mengunjunginya seperti terpanggil kembali untuk mengaguminya.

Air terjun batulappa. Ya, begitu penduduk menamakannya. Selain karena letaknya yang tepat berada di dusun batulappa (desa tompo, kecamatan barru), juga karena arti dari batulappa itu sendiri yang memiliki makna “Batu Bersusun”, persis dengan penggambaran dari keindahan air terjun ini.

Jarak dari kota barru ke lokasi wisata ini mencapai kurang lebih 10km perjalanan darat. Setelah melewati jembatan besar di pusat kota, carilah “Jalan Pahlawan” di sebelah kanan (bila dari makassar) maka akan diantarkan menuju ke desa tompo. Perjalanan darat yang dilalui lumayan menghambat disebabkan karena banyaknya berlubang. Oh iya, tak lupa di sepanjang jalan juga banyak ditemukan penjual “Bongkahan batu” dadakan yang menjajakan hasil pahatan dan gurindanya.

30 menit perjalanan berlalu, singgah lah di sebuah dusun batulappa, tepatnya lagi di perkampungan pangie. Mobil pengantar dititip sementara di pekarangan rumah warga sekitar. Sampai lupa, disini kami melakukan perjalanan sebanyak 11 orang.

Jalur Pematang Sawah menuju Air Terjun Batulappa
Jalur Pematang Sawah menuju Air Terjun Batulappa

Perjalanan kaki pertama dilakukan dengan melewati hamparan sawah yang luas, mungkin sekitar 800 meter kami menapaki pematang sawah milik warga. Suasana hijau dan semilir angin yang membisik telinga menjadi hiburan tersendiri bagi saya pribadi yang selalu menyendiri. Untuk jalur ini, tak ada kendala.

Masuk ke tantangan kedua, jalur mulai menanjak dengan sudut elevasi sekitar 45 derajat. Butuh tenaga extra dan fisik yang prima untuk bisa melewati ini. Saking beratnya, salah 1 anggota terpaksa menghentikan perjalanan menuju “tujuan” dikarenakan fisik yang sudah lelah. Saya pun yang sering naik gunung memang sempat ngos-ngosan melewati jalur itu. Tapi semua terbayarkan ketika melihat “Permadani Hijau” atau hamparan sawah petani yang dilewati tadi. Hijau, dan sangat tertata rapi seperti lapangan sepak bola. Cuci mata di sela-sela pengambilan nafas. heheheheh

Panorama Persawahan Batulappa
Panorama Persawahan Batulappa

Kami melanjutkan lagi perjalanannya , terdapat lagi jalur yang menanjak namun tak se-ekstrim jalur sebelumnya. Tak lama kemudian, terdengar gemuruh air yang menandakan air terjunnya sudah dekat. Dengan semangat ditambah dengan rasa penasaran tingkat tinggi, saya mencoba berlari untuk melihatnya.

Alhamdulillah, riuhnya air itu terdengar sangat jelas. Bahkan jatuhnya sudah terlihat. Walaupun jarak jatuhnya air itu hanya sekitar 1 meter, tapi puaslah diri ini menikmati perjalanan. Sesekali saya “memanjakan” kaki dengan membiarkannya seperti dipijit oleh derasnya air, dan sesekali juga saya sempatkan untuk mengabadikan indahnya air terjun ini dalam bentuk gambar dan video.

Air terjun batulappa
Air terjun batulappa

“Ayo kita ke atas lagi”, kata salah seorang teman. Saya pun agak heran, saya sempat mengira ini adalah tujuan kita. Ternyata masih ada lagi keindahan yang menanti disana. Rasa tak sabaran lagi yang mengendalikan diri ini sehingga tak sadar saya pun terjatuh dengan posisi “Tulang Ekor” bersentuhan pertama kali dengan ujung batu. Rasanya seperti dunia berhenti berputar. Sangat sakit. Di sekitar sungai pun ternyatan banyak sekali lumut yang menempel di bebatuan. Jadi harus hati-hati !!!

Ekspedisi pun berlanjut, agak sulit menemukan jalur di sekitar pinggir sungai. Disaat itu saya berfikir seertinya air terjun ini memang masih sangat sepi pengunjung. Dengan modal Insting sambil mencari jejak-jejak kecil akhirnya mengantarkan kami semua ke air terjun tingkat berikutnya. Tingginya lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, mungkin sekitar 4 meter. Sama seperti tadi, saya masih mengira ini adalah tujuan akhir perjalanan, tapi ternyata keindahan lainnya tetap setia menanti di atas.

Air Terjun Batulappa
Air Terjun Batulappa

Akhirnya, setelah melewati tingkatan yang ke dua tadi, sampailah saya melihat deretan batu yang lebar tertutupi derasnya air. Sangat indah! saya seperti berada di air terjun parangloe namun dihiasi dengan banyak pepohonan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan segera mendekatinya. Saya dan tim pun bergegas menuju kesana.

“ALHAMDULILLAH”, saya sudah sangat yakin bahwa inilah “tujuan” rihlah kita. Jernih, bersih, sangat jauh dari keramaian kota. Rasa lelah benar-benar terbayar ketika memandangnya. “ALLAHU AKBAR”, tak henti hentinya hati ini bertakbir melihat kuasaNya.

Air Terjun Batulappa
Air Terjun Batulappa

Rombongan bersegera untuk memanjakan diri yang lagi berkeringat itu tepat di bawah jatuhnya air. Segar tentunya, apalagi ketika selesai melakukan aktivitas pendakian. Banyak ragam cara mereka dalam mengekspresikan kegembiraan. Yang jelas, semua kegembiraan mereka tak luput dari rekaman video.

Di salah satu spot air terjun, terdapat sebidang batu yang agak luas. Di tempat itu kami memanfaatkan untuk melaksanakan sholat dzuhur yang dijamak dengan sholat ashar (dengan alasan safar). Adzan dikumandangkan dengan indah oleh salah satu rombongan, sedangkan yang lain bergegas untuk mengambil wudhu. Jadi ingat, beberapa bulan yang lalu agak kesulitan mendapatkan air dalam berwudhu. Namun ketika berada di air terjun ini, terasa mendapatkan rezeki air yang “terlalu” banyak. 🙂

Kami mulai melaksanakan sholat. Karena Struktur batu agak kasar dan tidak rata, sempat membuat kaki dan dahi saya mengalami sedikit kesakitan. Namun semua bisa tertutupi dengan nikmatnya udara sejuk dan suasana alam yang begitu asri dalam dekapan sholat. Jujur, baru pertama kali saya merasakan sholat di kawasan air terjun ini.

Halaqah Tarbiyah Ibnu Taimiyah
Halaqah Tarbiyah Ibnu Taimiyah

Setidaknya, saya benar-benar bersyukur dengan nikmat penglihatan ini, karena bisa melihat lagi salah satu “syurga” yang ada di indonesia ini. Saya pasti akan ke tempat ini lagi. Kalau bukan bersama teman komunitas, ya setidaknya bersama istri kelak. 🙂

Syukran

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Perjalanan Panjang ke Bawakaraeng

Bawakaraeng, Tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat awan (baca : pendaki) khususnya di Sulawesi Selatan. Gunung yang memiliki makna “Bawa” berarti Mulut dan “Karaeng” yang bermakna Tuhan memiliki ketinggian 2830 mdpl. Secara Geografis terletak di Kabupaten Gowa. Untuk melakukan pendakian di gunung tersebut, pendaki umumnya memilih jalur Lembanna yang juga terletak di kabupaten gowa. Sedangkan untuk jalur lain dapat dilakukan di Jalur Tassosso’ Sinjai Barat.

Lembanna, 28 Februari 2015. Tak ada rencana yang matang untuk datang ke desa ini. Semua serba mendadak, mungkin karena lumayan pusing memikirkan nasib draft tugas akhir yang tak beres-beres hingga memaksa untuk mencari udara segar agar bisa merefresh kembali fikiran atau sekedar lebih mendekat dengan sang Illahi. Pemberangkatan dimulai dari Makassar jam 21:30 hingga sampai di lembanna sekitar jam 23.00. oh iya, seperti biasa saya perginya sendiri lagi. Saya sendiri numpang menginap di rumah Tata Rasyid. Memang rumah warga yang ada di desa ini biasanya digunakan oleh para pendaki untuk sekedar bercerita dan beristirahat.

Menuju Pos 1

Pagi, jam 6:00, Suara anjing dan kicauan burung sambut mentari, saya memulai melangkahkan kaki dengan tekad untuk dapat menuju ke puncak. Hanya dengan bermodal beberapa info dari blog tentang trek ke gunung ini di google, membuatku agak percaya diri melangkah sambil membawa keril yang kira-kira beratnya sampai 20kg (yah setidaknya kisah cintaku lebih berat dari keril yang kuangkut). Di Perjalanan ini saya sangat dimanjakan dengan sejuknya suasana desa yang dihiasi dengan terangnya bunga-bunga hias dan hijaunya kebun sayur milik warga. Kol, sawi, bawang dan sayur-sayur lainnya memang komoditi andalan di desa ini. Jadi tak perlu heran bila penglihatan serasa hijau di trek ini.

Di tengah perjalanan ,tepatnya di hutan pinus, saya menemukan 1 kelompok yang kebetulan juga ingin menuju ke puncak bawakaraeng. Wah, sepertinya saya tak perlu repot-repot lagi menggunakan insting untuk sekedar nebak-nebak jalur pendakian , toh mereka ternyata sudah berpengalaman kesana. Mereka 4 orang, ada Ramadhan, Ekki, Aji, dan 1 lagi temannya yang saya lupa namanya. Mulailah saya berkenalan dan mengakrabkan diri.

 

Perjalanan ke Pos 1 Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 1 Bawakaraeng

1 Jam setelah melakukan langkah pertama dari desa lembanna dan penuh susah payah akibat trek yang landai, akhirnya kami tiba di pos 1. Di Pos ini terdapat 2 jalur pemisah yaitu jalur menuju ke puncak bawakaraeng (kanan) dan jalur menuju ke lembah Ramma (Kiri). Di Pos ini lumayan luas, namun tak terdapat sumber air.

Pos 1 – Pos 2

Kondisi hampir sama pada perjalanan menuju pos 1, di pos 2 juga jalur sangat landai dan waktu tempuh untuk mencapai pos ini sekitar 45 menit. Umumnya pendaki beristirahat disini sekedar relaksasi dan mengambil air karena terdapat anak sungai di pos ini. Saya sedikit terhibur dengan tulisan di trangulasi pos 2. “Berapa banyak harga yang dimiliki kalau sifat tamak dan tidak bersyukur, memiliki seluruh isi bumi pun tidak akan bahagia“.

Triangulasi Pos 2 Bawakaraeng
Triangulasi Pos 2 Bawakaraeng

Pos 2 – Pos 3

Sepertinya rute ke Pos 3 adalah rute yang paling pendek. Waktu tempuh dari pos 2 hanya 15 menitan saja. Masih terdapat aliran air dengan intensitas kecil. Lumayanlah buat cuci muka. Lagi-lagi dibuat sedikit sadar dengan tulisan yang ada di triangulasi pos ini. “Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayangmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan“.

Triangulasi Pos 3 Bawakaraeng
Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayanganmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan

 

Pos 3 – Pos 4

Sudah mulai memasuki hutan lumut. Karena ketinggian sudah mencapai lebih dari 1800 meter, maka hanya tanaman tertentu saja yang dapat tumbuh subur di kawasan ini seperti lumut dan jamur yang saya temui. Jarak antara pos 3 ke pos 4 kira-kira sekitar 800 meter dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Sampai di trangulasi pos ini, betis sudah mulai nyut-nyut, detak jantung berdetak kencang, dan aliran nafas dari mulut mulai tergesa-gesa. Istirahat yang cukup lama mungkin solusi terbaik saat itu.

Perjalanan Ke Pos 4 Bawakaraeng
Perjalanan Ke Pos 4 Bawakaraeng

 

Pos 4 – Pos 5

Setelah istirahat dan nafas sudah mulai stabil, kami melanjutkan lagi perjalanan ke pos 5. Ternyata jarak ke pos 5 juga terbilang jauh, sekitar 1 km. Medan masih dikuasai tanaman lumut. jalur yang semakin menanjak memaksa kami untuk singgah beberapa kali untuk merenggangkan “baut” di lutut dan mengatur nafas.

Setelah 50 menit berlalu, akhirnya sampai juga di Pos 5. Di Pos ini cukup luas dan sangat terbuka, umumnya para pendaki memutuskan untuk mendirikan tenda. Di Pos ini terdapat sebuah sungai yang cukup deras. Mungkin karena kelaparan akibat melakukan aktivitas pendakian yang lumayan panjang, Kami memutuskan untuk makan “berat” dengan memasak nasi dan mie instan.

Perjalanan ke pos 5 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 5 Bawakaraeng

Pos 5 – Pos 6

Perut sudah terisi, saatnya melanjutkan perjalanan. Sempat melihat sebuah puncak di depan mata, saya pun bertanya ke salah satu teman “puncaknya yang itu yah?”. “Bukan, kalau sudah melewati puncak itu, kita turun lagi, terus naik puncak lagi, dan turun lagi”, balas si Aji menjawab. Entah jawaban si Aji ini membuat kaki semakin merinding. Tapi ini sudah sepertiga jalan, sayang bila harus kembali.

Pada kawasan antara pos 5 dan pos 6 dihiasi pohon pohon yang telah terbakar. Jadinya seperti hutan mati. Jarak menuju ke pos 6 kira-kira 900 meter dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Perjalanan ke Pos 6 Gunung Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 6 Gunung Bawakaraeng

 

Pos 6 – Pos 7

Keadaan trek pos 6 ke pos 7 agak mirip dengan trek pos 5 ke pos 6. Kita harus melewati “hutan mati” yang telah terbakar dan hutan lumut.

Perjalanan ke pos 7 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 7 Bawakaraeng

 

Pos 7 – Pos 8

Inilah trek yang paling “PHP” dan paling berat menurut saya. Bagaimana tidak, jalur yang dilewati harus naik-turun-naik-turun-naik-turun gunung. Sempat berpikir kenapa jalurnya gak diratakan saja, kenapa harus turun dan naik lagi. Tapi mungkin disitulah “nikmatnya” pendakian. Jarak antar pos sekitar 1.5 KM dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Tiba di pos 8, kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat. Terdapat sebuah sungai yang cukup deras yang berdinding lumut.

Perjalanan ke Pos 8 Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 8 Bawakaraeng

 

Pos 8 – Pos 9

Setelah beristirahat semalam penuh, kami melanjutkan perjalanan ke pos 9. Sebelumnya kami cukup menyimpan sebagian barang-barang di tenda pos 8 agar tidak terlalu terbebani lagi ke puncak. Jarak menuju ke pos 9 sekitar 400 meter dan sangat landai. Walau begitu, kami mulai disuguhkan dengan pemandangan terbuka kawasan puncak bawakaraeng.

Di Pos 9 terdapat jalur untuk menuju ke pos 1 kawasan Tassosso (Sinjai barat) dan juga terdapat sumber mata air. Banyak juga pendaki yang memutuskan untuk menginap di pos ini.

Perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng

 

Pos 9 – Pos 10 (Puncak)

Cihhuyy, sedikit lagi. Masih dengan pemandangan terbuka kami harus harus melangkahkan kaki ke puncak selama 20-an menit. Saya pribadi sudah mulai kehabisan nafas, mungkin karena pengaruh ketinggian di atas 2600 meter yang menyebabkan oksigen semakin menipis. Ditambah dengan kabut tebal dan dingin yang benar-benar membuat badan semakin kaku. Tapi sedingin-dinginnya suasana Pos 10, lebih dingin lagi sikap dia ke saya akhir-akhir ini (curhat). Di Pos 10 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Terdapat tiang bendera dan sumber air (sumur) namun agak kurang bersih terlihat.

Perjalanan ke Pos 10
Perjalanan ke Pos 10

 

Puncak (2830 mdpl)

Alhamdulillah, sampai juga di Top of Gowa. Inilah 2830 mdpl pertamaku. Sangat Indah pemandangan dari atas. Disini kita bisa melihat awan yang seolah-olah menyerbu bukit. Seperti di syurga, ingin berlama-lama disini.

Satu hal terpenting yang saya dapat di pendakian kali ini, kalau ingin melihat “syurga dunia” berupa hamparan awan dan bukit harus membutuhkan waktu 10an jam, toh apalagi bila ingin melihat syurga sebenarnya di akhirat, pasti membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dibandingkan cuma melakukan pendakian.

 

Puncak Bawakaraeng
Puncak Bawakaraeng

 Sekali lagi, Ini Bukan Syurga, Ini Indonesia

Untuk dokumentasi Perjalanannya, bisa dilihat pada video di bawah

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Syahadat Sang Muallaf

Selasa, 25 Februari 2014. Lelah dan ngantuk setelah beraktivitas seharian di 2 kampus yang berbeda. Kampus pertama adalah UNHAS untuk kepentingan bimbingan tugas akhir yang ternyata saya lupa bawa draft dan Kampus kedua adalah UIN Alauddin, untuk menghadiri rapat yang ternyata rapatnya juga tidak jadi. Kebetulan tiap selasa malam diadakan taklim di sebuah masjid di pusat kota dekat toko Al*ska. Saya lumayan cepat tiba disana agar bisa curi waktu untuk tidur-tiduran (walau tidur di waktu ashar sangat tidak dianjurkan).

Adzan maghrib pun berkumandang, untungnya tidur di masjid, jadinya “terpaksa” bangun. Kalau tidurnya di rumah, mungkin jam 12 malam baru bisa bangun. Jemaah pun banyak berdatangan untuk menunaikan masjid ditambah niat mereka juga untuk mengikuti taklim.

Usai sholat maghrib, Imam Masjid mengumumkan bahwa ada seorang “kafir” ingin masuk islam. “Wah, kejadian langkah nih!”. Buru-buru saya mengambil handphone bermodal kamera untuk merekam prosesi sakral ini. Di depan pintu tampak seorang lelaki yang berfisik mirip seperti saya (kurus) dengan baju koko putih dan celana model “botol”. Nama lelaki itu adalah Fery.  Perlahan lelaki yang didampingi walinya itu duduk di tengah-tengah para jemaah yang sebelumnya sudah membentuk setengah lingkaran.

Apa alasan saudara ingin memeluk Islam?“, tanya Imam Masjid secara “curiga”. Wajar saja sang Imam harus merasa curiga terlebih dahulu mengingat banyak kasus seseorang yang pura-pura masuk islam sekedar untuk bisa menikahi wanita pujaannya yang beragama islam, yang bila mereka menikah nantinya sang wanita akan di”murtad”kan atau dimasukkan ke agama asal sang lelaki.

Sekali lagi saya tanyakan, Apa yang melandasi saudara ingin masuk Islam?“, Imam pun bertanya lagi. “Yang mendasari saya ingin masuk islam, saya ingin mengenal lebih dekat tentang islam, dan ingin mengetahui apakah agama islam itu benar atau tidak“. Sang calon Muallaf pun menjawab dengan agak deg-degan.

Nanti setelah itu datang saja kesini untuk belajar-belajar islam secara dasar , nanti akan kami bimbing“, sang Imam mencoba memberi arahan berikutnya dan berharap calon mu’allaf untuk tidak “putus” hanya sekedar mengucapkan syahadat saja tapi tidak melanjutkan untuk menuntut ilmu syar’i.

Saudara Fery, ikuti saya! BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM“, imam pun mulai memberi arahan. “BISMILLAHIRAHMANIRAHIM“, jawab lelaki itu dengan lafadz yang memang bukan seperti ucapan basmalah pada lazimnya.

********************** dan detik-detik hijrah pun itu tiba **********************

Imam : “asyhadu alla ilaha illallah
Fery : “ashadu alla ilaha illollah
Imam : “asy ! bukan as . Karena maknanya bisa berbeda.
Fery pun berusaha mengulangi pelafalan yang tepat sampai 2 kali. kemudian imam pun melanjutkan lagi
Imam : “Wa asyhad anna muhammadarrasulullah“.
Fery pun berusaha mengulangi dan membalas “Washadu” sampai 2 kali. Imam pun dengan sabar mengulangi pelafalan “Wa asyhad anna muhammadarrasulullah” hingga si fery dengan mantap melafalkan 2 kalimat syahadat secara lengkap.
Imam : “Aku Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH“.
Fery : “Aku Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH“.
Imam : “Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad Nabi dan Rasul Allah“.

Imam, para jemaah, dan saya sendiri yang menyaksikan prosesi ini dengan lantang mengucapkan “ALLAHU AKBAR“. Bergetar, dan tangis tentunya mengalir mendengar ucapan syahadat dari akhi ini. Walau lafaznya agak berbeda dan sedikit terbata-bata, setidaknya dia benar-benar sudah berhijrah. Sejujurnya, saya iri dengan si Fery ini.

Sang Imam pun menawarkan untuk si Fery apakah ingin “menambah” nama atau “mengganti” nama. Ada tawaran namanya diganti dengan “Yusuf” atau ditambahkan “Muhammad”. Salah satu Imam menjelaskan keutamaan memiliki nama “Islami” yang baik salah satunya adalah mempermudah di saat Hisab.

Setelah melalui perundingan dan mungkin adanya “gejolak batin” di pikiran sang Muallaf, akhirnya dia memutuskan untuk menambahkan saja kata “Muhammad” di depan nama aslinya menjadi “Muhammad Fery”. Sekedar informasi, Nama lengkap di KTP beliau tidak berubah, Nama baru yang islami ini hanya digunakan untuk pergaulan dan menandakan keislamannya.

Prosesi Pengucapan dua kalimat syahadat
Prosesi Pengucapan dua kalimat syahadat

Di sesi terakhir, pengurus masjid memberikan sebuah mushaf dan terjemahnya untuk sang muallaf untuk dipelajarinya sambil menyarankan untuk Muhammad Fery mengikuti pengajian dan taklim rutin yang diadakan di masjid tersebut.

ALLAHU AKBAR

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Air Terjun Bissappu, Syurga Di Dekat Kota Bantaeng

Ahad, 1 februari 2015. Selepas mengajar di tanete dan ber-narsis ria di wisata bahari bulukumba , saya putuskan untuk balik ke makassar mengingat menumpuknya amanah yang wajib ditunaikan disana. Ditemani si sophie (motor matic) yang masih gagah menopang badan dan carrier yang bobotnya sekitar 75kg (nggak penting).

Tiba di bantaeng, waktunya mata dimanjakan dengan indahnya kota ini. Pantai seruni, deretan sawah yang berbatasan langsung dengan laut, serta latar gunung bawakaraeng yang kokoh membiru benar-benar memanjakan mata ini. Kerapian kota ini juga membuat saya kagum.

Deretan Sawah di Bantaeng
Deretan Sawah di Bantaeng

kamu merasa anak manja?
berpetualanglah !!
karena berpetualang sungguh memanjakanmu !!

Asik menikmati perjalanan di kota bantaeng, motor agak saya pelankan sedikit ketika melihat sebuah papan penunjuk yang bertuliskan “Air Terjun Bissappu 5 KM“. Penunjuk arah ini sangat jelas terlihat di jalan poros bantaeng. Rasa penasaran pun muncul ingin melihat syurga itu. Siapa tau aja ada “dewi” lagi nyuci baju disana.

Selama perjalanan menuju Air terjun Bissappu ini, lagi lagi saya kembali dimanjakan dengan pemandangan sengkedan sawah yang tersusun rapi. Pohon pohon yang rindang serta senyum ramah penduduk yang mayoritas petani semakin membuat tenang perjalanan ini.

5 Kilometer telah terlewati, saya dihadapkan dengan gerbang air terjun bissappu. Terdapat seorang tua yang sedang bertugas menjaga pos jaga. oh iya, untuk masuk ke tempat wisata, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp.7500, terdiri dari uang masuk dan uang parkir motor. Dari tempat parkir motor sudah terdengar jelas suara air yang saling berterjunan secara berjamaah. Langsung saya buru-buru kesana untuk melihatnya.

Air Terjun Bissappu, Bantaeng
Air Terjun Bissappu, Bantaeng

Jarak dari tempat parkir ke pusat air terjun cukup dekat, sekitar 5 menit-an jalan kaki. Di awali dengan melewati beberapa anak tangga yang tersusun rapi, dan bebatuan besar yang menghadang di depan.  Jalan kaki kali ini ditemani musik alami dari irama serangga yang bersuara bising.

Setelah itu ? Masya ALLAH ! saya benar-benar melihat syurga itu. Indah, Sejuk, Hijau, Nyaring dan menentramkan. Air terjun yang kira-kira tingginya 7 meter itu menjatuhkan debit air dalam ukuran besar. Jernih ! saya langsung naik ke salah satu bebatuan besar dan berteriak sekencang-kencangnya tanda kepuasan itu telah saya raih. “ALLAAAHU AKBAR !!”. Tenang rasanya.

Saya berbaring sebentar di bebatuan dan nyaris tertidur akibat kelelahan ber-“jokka” seharian penuh. Saya sempat menengok keadaan di air terjun dan saya baru sadar, ternyata saya benar-benar sendiri disini. Bodo Amat ! Yang jelas saya menikmati syurga dunia ini lagi. Tak lupa salah satu hal wajib yang saya lakukan ketika berada di tempat amazing, poto-poto. Beberapa objek saya dapatkan dari angle berbeda. Hmm, biar dari angle manapun, kalau alamnya sudah indah, yah fotonya pasti indah juga.Mata lagi-lagi dimanjakan dengan “penampakan” pelangi 1 lingkaran penuh yang menghiasi air terjun, kebetulan karena bertemu dengan cahaya matahari langsung. Ahh, membuat istirahat saya semakin terasa lelap di pembaringan bebatuan.

Di bawah Air Terjun Bissappu, Bantaeng
Di bawah Air Terjun Bissappu, Bantaeng

Tak lama kemudian, ada pengunjung baru yang datang (ALHAMDULILLAH). Setidaknya saya tak “Kosong” lagi. Mereka adalah Arif dan temannya (saya lupa namanya). Mereka ternyata berdomisili di makassar yang kebetulan juga datang dari festival pantai samboang , bulukumba. Untungnya mereka ada, setidaknya ada yang bisa memotretku di air terjun ini. Ternyata mereka juga butuh bantuan saya untuk memotret mereka. Senang tentunya bisa memberi manfaat kepada orang lain walau itu cuma foto foto saja.

Kami berjalan mendekati sumber jatuhnya air itu. Behh, dingin , bising, dan basah. Pakaian sisa dan Tas carrier yang kubawa menjadi basah. sekali lagi, Bodo Amat ! Saya sudah tak peduli lagi ketika sudah terbuai dengan kenikmatan alam ini. Yah, seperti itulah perjalananku. Perjalanan solo, sang jolang (jomblo petualang). Saya akan selalu mengingat keindahan syurga ini. ALHAMDULILLAH, atas nikmat indera ini .

Jadi, Anda orang bantaeng, tapi tidak pernah ke tempat ini? Kebantaengan anda dipertanyakan . 🙂

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Bulukumba, Tentang Seikat Gelang dan Harapan

Jumat, 30 januari 2015. Entah sudah berapa kali saya berkunjung ke bulukumba. Sudah menjadi kebiasaan berangkat menuju ke bulukumba (dari makassar) setelah maghrib. Alasannya simple, supaya bisa nginap di masjid pertengahan perjalanan, bangun subuh, dan bisa tiba lebih pagi disana dan melihat semangat adik-adik SD bersekolah sambil memakai bedak yang lumayan menor tapi lucu dilihatnya.

Sawah di bulukumba, Balleanging
Sawah di bulukumba, Balleanging

Setelah melewati beberapa ruas sawah yang tersusun rapi, sampai lah di sebuah SDN yang sangat penuh cerita di masa-masa KKNku. SDN 239. “Ihhh, kak awal !” , “Ihhh, ada ka ka en !!” , “wih, kak awal tambah panjangmi jenggotnya, tambah tuami“. Yah, itu kata sambutan mereka yang disertai dengan senyum sumringah. Saya tak bisa pastikan kenapa mereka bisa tersenyum. Apakah mereka merasa kangen, ataukah mereka tahu kalau saya datang, maka saatnya adalah membuat prakarya baru. 🙂 . Tapi , memang sudah saya niatkan untuk mengajarkan mereka.

Sebelum mengajar, sempat masuk dulu ke kantor guru. yah, sekedar cerita basa-basi tentang kabar, keadaan kuliah, kapan nikah, sampai cerita pun mulai bergeser ke batu bacan. setelah lama bercerita, guru pun langsung menawarkan, “Masuk mki kalau mau mengajar, nacariki itu muridta”. Dengan Sigap saya siapkan bahan ajarnya, cuma beberapa ikat tali kur saja dengan berbagai warna. Kali ini aku ingin ajarkan ke mereka membuat gelang dari tali kur.

Sampai lah di kelas mereka. Supaya adil dan tidak ada “kecemburuan”, kelasnya pun digabung menjadi 1. Ada Kelas 4, 5, dan 6. Sebelumnya saya pernah mengajar mereka bahkan kelasnya pun digabung dari 6 kelas, dan rasanya lumayan lelah. Tapi saya yakin , kali ini mereka akan sangat antusias dalam berkreasi.

Saya memanggil satu persatu nama mereka untuk mengambil 2 buah tali. awalnya teratur, tapi mungkin karena anak-anak yang lain kelamaan menunggu, jadi mereka langsung berebutan. Saya menghentikan sejenak pendistribusian tali, dan langsung bilang ke mereka, “Kakak cuma mau membagikan yang tenang duduknya“. wuih, langsung adek-adeknya yang tadinya agresif tiba-tiba jadi kalem. Ada yang gak mau berkedip sama sekali, ada yang mulutnya gak terbuka sama sekali, bahkan ada juga murid yang masih sempat-sempat ingusnya keluar, namun dibiarkan keluar begitu saja, mungkin alasannya biar gak berisik ketika ditarik kembali ke hidung.

Bahan yang saya bawa ternyata tak sebanding dengan jumlah murid yang harus diajarkan, yah dengan berat hati ada beberapa murid tidak kebagian. Jadinya harus memutar otak bagaimana cara mereka juga tetap aktif dalam belajar.

Setelah semua tali kurnya terdistribusi, mulailah saya memperagakan cara membuat talinya. Agak sulit menjelaskan ke mereka semua, mengingat perbedaan umur dari mereka otomatis tingkat kepahaman dalam menerima pesan pasti berbeda-beda. Ditambah dengan sulitnya mempraktikkan membuat gelang dalam posisi berdiri di depan mereka. yah terpaksa melantai, supaya tali yang saya buat bisa terlihat susunan lilitan dan polanya. Mungkin sekitar 3 kali penjelasannya saya ulang. Sudah banyak metode yang kupakai, mulai dari suara dibuat sok-sok imut, pakai menyanyi, bahkan bergerak dan mengunjungi satu persatu murid agar melihat hasilnya. “ini, kalo disini kepalanya, maka tali sebelah ini yang diikat”, entah kata “kepala” dari tali itu darimana saya dapat. Barangkali memang saya gak punya bakat dalam menjelaskan materi. hahahah

Suasana Belajar
Suasana Belajar

Wuihh, kak, sa tau’ mi“. Sepertinya, sebagian murid-murid mulai paham cara buatnya, akhirnya mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Saya menginstruksikan kepada murid yang sudah paham untuk mengajarkannya ke murid yang tidak paham. Gunanya, agar mereka bisa saling berbagi pengetahuan, bisa berinteraksi dengan adik-adiknya (junior).

Saling Kerjasama
Saling Kerjasama
lagi serius
lagi serius

30 menit berlalu, akhirnya gelangnya pun sudah banyak yang jadi. Terlihat wajah bangga mereka telah berhasil membuat 1 prakarya lagi. Ada yang langsung memakainya dan dipamerkan ke temannya, ada pula yang berusaha membantu temannya yang belum kelar. Senang melihat mereka yang peduli dengan temannya.

Gelang karya mereka
Gelang karya mereka

Setelah pembelajaran prakarya, saya melanjutkan dengan pelajaran “Berani Bicara” tentang profesi yang diidam-idamkan adik-adik. Terdapat beberapa kertas yang kusediakan sebelumnya yang berisi beberapa jenis profesi seperti Dokter, Bidan, Ketua KPK, Polisi, Tentara, Penjual Mainan dan masih banyak lagi. Beberapa anak saya panggil untuk mengambil salah satu yang ia cita-citakan kemudian “mengikrarkan”nya di depan kamera. hihihihi, tampak banyak yang malu-malu, tapi ada juga yang sangat percaya diri.

Tentang Cita-cita SDN239
Tentang Cita-cita SDN239

Untuk adik-adik yang belum kebagian bahan, saya janjikan untuk datang lagi bulan depan mengajarkan mereka membuat prakarya lain. Yah, mudahan terlaksana lagi ! 🙂 . Setelah ingin pulang, beberapa dari mereka menghampiri untuk minta salaman, dan mereka juga punya harapan agar saya kesini lagi untuk sekedar menjenguk dan mengajarkan mereka lagi dalam membuat hal-hal baru. Inilah satu dari sekian banyak alasan yang membuatku senang mengunjungi tempat ini.

untuk melihat semua kekacauan dan keseruannya, bisa dilihat pada video berikut

Terima kasih untuk senyum kalian, adik-adikku :*

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .