Riuh di Air Terjun Batulappa Barru

Terletak kira-kira 10 km dari pusat kota barru, tepatnya di desa batulappa. Batulappa yang berarti batu bersusun menggambarkan keadaan asli dari air terjun yang bertingkat-tingkat. Riuh suara dan indahnya panorama bebatuannya membuat yang pernah mengunjunginya seperti terpanggil kembali untuk mengaguminya.

Air terjun batulappa. Ya, begitu penduduk menamakannya. Selain karena letaknya yang tepat berada di dusun batulappa (desa tompo, kecamatan barru), juga karena arti dari batulappa itu sendiri yang memiliki makna “Batu Bersusun”, persis dengan penggambaran dari keindahan air terjun ini.

Jarak dari kota barru ke lokasi wisata ini mencapai kurang lebih 10km perjalanan darat. Setelah melewati jembatan besar di pusat kota, carilah “Jalan Pahlawan” di sebelah kanan (bila dari makassar) maka akan diantarkan menuju ke desa tompo. Perjalanan darat yang dilalui lumayan menghambat disebabkan karena banyaknya berlubang. Oh iya, tak lupa di sepanjang jalan juga banyak ditemukan penjual “Bongkahan batu” dadakan yang menjajakan hasil pahatan dan gurindanya.

30 menit perjalanan berlalu, singgah lah di sebuah dusun batulappa, tepatnya lagi di perkampungan pangie. Mobil pengantar dititip sementara di pekarangan rumah warga sekitar. Sampai lupa, disini kami melakukan perjalanan sebanyak 11 orang.

Jalur Pematang Sawah menuju Air Terjun Batulappa
Jalur Pematang Sawah menuju Air Terjun Batulappa

Perjalanan kaki pertama dilakukan dengan melewati hamparan sawah yang luas, mungkin sekitar 800 meter kami menapaki pematang sawah milik warga. Suasana hijau dan semilir angin yang membisik telinga menjadi hiburan tersendiri bagi saya pribadi yang selalu menyendiri. Untuk jalur ini, tak ada kendala.

Masuk ke tantangan kedua, jalur mulai menanjak dengan sudut elevasi sekitar 45 derajat. Butuh tenaga extra dan fisik yang prima untuk bisa melewati ini. Saking beratnya, salah 1 anggota terpaksa menghentikan perjalanan menuju “tujuan” dikarenakan fisik yang sudah lelah. Saya pun yang sering naik gunung memang sempat ngos-ngosan melewati jalur itu. Tapi semua terbayarkan ketika melihat “Permadani Hijau” atau hamparan sawah petani yang dilewati tadi. Hijau, dan sangat tertata rapi seperti lapangan sepak bola. Cuci mata di sela-sela pengambilan nafas. heheheheh

Panorama Persawahan Batulappa
Panorama Persawahan Batulappa

Kami melanjutkan lagi perjalanannya , terdapat lagi jalur yang menanjak namun tak se-ekstrim jalur sebelumnya. Tak lama kemudian, terdengar gemuruh air yang menandakan air terjunnya sudah dekat. Dengan semangat ditambah dengan rasa penasaran tingkat tinggi, saya mencoba berlari untuk melihatnya.

Alhamdulillah, riuhnya air itu terdengar sangat jelas. Bahkan jatuhnya sudah terlihat. Walaupun jarak jatuhnya air itu hanya sekitar 1 meter, tapi puaslah diri ini menikmati perjalanan. Sesekali saya “memanjakan” kaki dengan membiarkannya seperti dipijit oleh derasnya air, dan sesekali juga saya sempatkan untuk mengabadikan indahnya air terjun ini dalam bentuk gambar dan video.

Air terjun batulappa
Air terjun batulappa

“Ayo kita ke atas lagi”, kata salah seorang teman. Saya pun agak heran, saya sempat mengira ini adalah tujuan kita. Ternyata masih ada lagi keindahan yang menanti disana. Rasa tak sabaran lagi yang mengendalikan diri ini sehingga tak sadar saya pun terjatuh dengan posisi “Tulang Ekor” bersentuhan pertama kali dengan ujung batu. Rasanya seperti dunia berhenti berputar. Sangat sakit. Di sekitar sungai pun ternyatan banyak sekali lumut yang menempel di bebatuan. Jadi harus hati-hati !!!

Ekspedisi pun berlanjut, agak sulit menemukan jalur di sekitar pinggir sungai. Disaat itu saya berfikir seertinya air terjun ini memang masih sangat sepi pengunjung. Dengan modal Insting sambil mencari jejak-jejak kecil akhirnya mengantarkan kami semua ke air terjun tingkat berikutnya. Tingginya lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, mungkin sekitar 4 meter. Sama seperti tadi, saya masih mengira ini adalah tujuan akhir perjalanan, tapi ternyata keindahan lainnya tetap setia menanti di atas.

Air Terjun Batulappa
Air Terjun Batulappa

Akhirnya, setelah melewati tingkatan yang ke dua tadi, sampailah saya melihat deretan batu yang lebar tertutupi derasnya air. Sangat indah! saya seperti berada di air terjun parangloe namun dihiasi dengan banyak pepohonan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan segera mendekatinya. Saya dan tim pun bergegas menuju kesana.

“ALHAMDULILLAH”, saya sudah sangat yakin bahwa inilah “tujuan” rihlah kita. Jernih, bersih, sangat jauh dari keramaian kota. Rasa lelah benar-benar terbayar ketika memandangnya. “ALLAHU AKBAR”, tak henti hentinya hati ini bertakbir melihat kuasaNya.

Air Terjun Batulappa
Air Terjun Batulappa

Rombongan bersegera untuk memanjakan diri yang lagi berkeringat itu tepat di bawah jatuhnya air. Segar tentunya, apalagi ketika selesai melakukan aktivitas pendakian. Banyak ragam cara mereka dalam mengekspresikan kegembiraan. Yang jelas, semua kegembiraan mereka tak luput dari rekaman video.

Di salah satu spot air terjun, terdapat sebidang batu yang agak luas. Di tempat itu kami memanfaatkan untuk melaksanakan sholat dzuhur yang dijamak dengan sholat ashar (dengan alasan safar). Adzan dikumandangkan dengan indah oleh salah satu rombongan, sedangkan yang lain bergegas untuk mengambil wudhu. Jadi ingat, beberapa bulan yang lalu agak kesulitan mendapatkan air dalam berwudhu. Namun ketika berada di air terjun ini, terasa mendapatkan rezeki air yang “terlalu” banyak. ­čÖé

Kami mulai melaksanakan sholat. Karena Struktur batu agak kasar dan tidak rata, sempat membuat kaki dan dahi saya mengalami sedikit kesakitan. Namun semua bisa tertutupi dengan nikmatnya udara sejuk dan suasana alam yang begitu asri dalam dekapan sholat. Jujur, baru pertama kali saya merasakan sholat di kawasan air terjun ini.

Halaqah Tarbiyah Ibnu Taimiyah
Halaqah Tarbiyah Ibnu Taimiyah

Setidaknya, saya benar-benar bersyukur dengan nikmat penglihatan ini, karena bisa melihat lagi salah satu “syurga” yang ada di indonesia ini. Saya pasti akan ke tempat ini lagi. Kalau bukan bersama teman komunitas, ya setidaknya bersama istri kelak. ­čÖé

Syukran

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri ­čÖé .

Perjalanan Panjang ke Bawakaraeng

Bawakaraeng, Tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat awan┬á(baca : pendaki) khususnya di Sulawesi Selatan. Gunung yang memiliki makna “Bawa” berarti┬áMulut dan “Karaeng”┬áyang bermakna┬áTuhan memiliki ketinggian 2830 mdpl. Secara Geografis terletak di Kabupaten Gowa. Untuk melakukan pendakian di gunung tersebut, pendaki umumnya memilih jalur Lembanna yang juga terletak di kabupaten gowa. Sedangkan untuk jalur lain dapat dilakukan di Jalur Tassosso’ Sinjai Barat.

Lembanna, 28 Februari 2015. Tak ada rencana yang matang untuk datang ke desa ini. Semua serba mendadak, mungkin karena lumayan pusing memikirkan nasib draft tugas akhir yang tak beres-beres hingga memaksa untuk mencari udara segar agar bisa merefresh kembali fikiran atau sekedar lebih mendekat dengan sang Illahi. Pemberangkatan dimulai dari Makassar jam 21:30 hingga sampai di lembanna sekitar jam 23.00. oh iya, seperti biasa saya perginya sendiri lagi. Saya sendiri numpang menginap di rumah Tata Rasyid. Memang rumah warga yang ada di desa ini biasanya digunakan oleh para pendaki untuk sekedar bercerita dan beristirahat.

Menuju Pos 1

Pagi, jam 6:00, Suara anjing dan kicauan burung sambut mentari, saya memulai melangkahkan kaki dengan tekad untuk dapat menuju ke puncak. Hanya dengan bermodal beberapa info dari blog tentang trek ke gunung ini di google, membuatku agak percaya diri melangkah sambil membawa keril yang kira-kira beratnya sampai 20kg (yah setidaknya kisah cintaku lebih berat dari keril yang kuangkut). Di Perjalanan ini saya sangat dimanjakan dengan sejuknya suasana desa yang dihiasi dengan terangnya bunga-bunga hias dan hijaunya kebun sayur milik warga. Kol, sawi, bawang dan sayur-sayur lainnya memang komoditi andalan di desa ini. Jadi tak perlu heran bila penglihatan serasa hijau di trek ini.

Di tengah perjalanan ,tepatnya di hutan pinus, saya menemukan 1 kelompok yang kebetulan juga ingin menuju ke puncak bawakaraeng. Wah, sepertinya saya tak perlu repot-repot lagi menggunakan insting untuk sekedar nebak-nebak jalur pendakian , toh mereka ternyata sudah berpengalaman kesana. Mereka 4 orang, ada Ramadhan, Ekki, Aji, dan 1 lagi temannya yang saya lupa namanya. Mulailah saya berkenalan dan mengakrabkan diri.

 

Perjalanan ke Pos 1 Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 1 Bawakaraeng

1 Jam setelah melakukan langkah pertama dari desa lembanna dan penuh susah payah akibat trek yang landai, akhirnya kami tiba di pos 1. Di Pos ini terdapat 2 jalur pemisah yaitu jalur menuju ke puncak bawakaraeng (kanan) dan jalur menuju ke lembah Ramma (Kiri). Di Pos ini lumayan luas, namun tak terdapat sumber air.

Pos 1 – Pos 2

Kondisi hampir sama pada perjalanan menuju pos 1, di pos 2 juga jalur sangat landai dan waktu tempuh untuk mencapai pos ini sekitar 45 menit.┬áUmumnya pendaki beristirahat disini sekedar relaksasi dan mengambil air karena terdapat anak sungai di pos ini. Saya sedikit terhibur dengan tulisan di trangulasi pos 2. “Berapa banyak harga yang dimiliki kalau sifat tamak dan tidak bersyukur, memiliki seluruh isi bumi pun tidak akan bahagia“.

Triangulasi Pos 2 Bawakaraeng
Triangulasi Pos 2 Bawakaraeng

Pos 2 – Pos 3

Sepertinya rute ke Pos 3┬áadalah rute yang paling pendek. Waktu tempuh dari pos 2 hanya 15 menitan saja. Masih terdapat aliran air dengan intensitas kecil. Lumayanlah buat cuci muka. Lagi-lagi dibuat sedikit sadar┬ádengan tulisan yang ada di triangulasi pos ini. “Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayangmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan“.

Triangulasi Pos 3 Bawakaraeng
Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayanganmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan

 

Pos 3 – Pos 4

Sudah mulai memasuki hutan lumut. Karena ketinggian sudah mencapai lebih dari 1800 meter, maka hanya tanaman tertentu saja yang dapat tumbuh subur di kawasan ini seperti lumut dan jamur yang saya temui. Jarak antara pos 3 ke pos 4 kira-kira sekitar 800 meter dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Sampai di trangulasi pos ini, betis sudah mulai nyut-nyut, detak jantung berdetak kencang, dan aliran nafas dari mulut mulai tergesa-gesa. Istirahat yang cukup lama mungkin solusi terbaik saat itu.

Perjalanan Ke Pos 4 Bawakaraeng
Perjalanan Ke Pos 4 Bawakaraeng

 

Pos 4 – Pos 5

Setelah istirahat dan nafas sudah mulai stabil, kami melanjutkan lagi perjalanan ke pos 5. Ternyata jarak ke pos 5 juga terbilang jauh, sekitar 1 km. Medan masih dikuasai tanaman lumut. jalur yang semakin menanjak memaksa kami untuk singgah beberapa kali untuk merenggangkan “baut” di lutut dan mengatur nafas.

Setelah 50 menit berlalu, akhirnya sampai juga di Pos 5. Di Pos ini cukup luas dan sangat terbuka, umumnya para pendaki memutuskan untuk mendirikan tenda.┬áDi Pos ini terdapat sebuah sungai yang cukup deras. Mungkin karena kelaparan akibat melakukan aktivitas pendakian yang lumayan panjang,┬áKami memutuskan untuk┬ámakan “berat” dengan memasak nasi dan mie instan.

Perjalanan ke pos 5 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 5 Bawakaraeng

Pos 5 – Pos 6

Perut sudah terisi, saatnya melanjutkan perjalanan. Sempat melihat sebuah puncak di depan mata, saya pun bertanya ke salah satu teman “puncaknya yang itu yah?”. “Bukan, kalau sudah melewati puncak itu, kita turun lagi, terus naik puncak lagi, dan turun lagi”, balas si Aji menjawab. Entah jawaban si Aji ini membuat kaki semakin merinding. Tapi ini sudah sepertiga jalan, sayang bila harus kembali.

Pada kawasan antara pos 5 dan pos 6 dihiasi pohon pohon yang telah terbakar. Jadinya seperti hutan mati. Jarak menuju ke pos 6 kira-kira 900 meter dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Perjalanan ke Pos 6 Gunung Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 6 Gunung Bawakaraeng

 

Pos 6 – Pos 7

Keadaan trek pos 6 ke pos 7 agak mirip dengan trek pos 5 ke pos 6. Kita harus melewati “hutan mati” yang telah terbakar dan hutan lumut.

Perjalanan ke pos 7 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 7 Bawakaraeng

 

Pos 7 – Pos 8

Inilah trek yang paling “PHP” dan paling berat menurut saya. Bagaimana tidak, jalur yang dilewati harus naik-turun-naik-turun-naik-turun gunung. Sempat berpikir kenapa jalurnya gak diratakan saja, kenapa harus turun dan naik lagi. Tapi mungkin disitulah “nikmatnya” pendakian. Jarak antar pos┬ásekitar 1.5 KM dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Tiba di pos 8, kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat. Terdapat sebuah sungai yang cukup deras yang berdinding lumut.

Perjalanan ke Pos 8 Bawakaraeng
Perjalanan ke Pos 8 Bawakaraeng

 

Pos 8 – Pos 9

Setelah beristirahat semalam penuh, kami melanjutkan perjalanan ke pos 9. Sebelumnya kami cukup menyimpan sebagian barang-barang di tenda pos 8 agar tidak terlalu terbebani lagi ke puncak. Jarak menuju ke pos 9 sekitar 400 meter dan sangat landai. Walau begitu, kami mulai disuguhkan dengan pemandangan terbuka kawasan puncak bawakaraeng.

Di Pos 9 terdapat jalur untuk menuju ke pos 1 kawasan Tassosso (Sinjai barat) dan juga terdapat sumber mata air. Banyak juga pendaki yang memutuskan untuk menginap di pos ini.

Perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng
Perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng

 

Pos 9 – Pos 10 (Puncak)

Cihhuyy, sedikit lagi. Masih dengan pemandangan terbuka kami harus harus melangkahkan kaki ke puncak selama 20-an menit. Saya pribadi sudah mulai kehabisan nafas, mungkin karena pengaruh ketinggian di atas 2600 meter yang menyebabkan oksigen semakin menipis. Ditambah dengan kabut tebal dan dingin yang benar-benar membuat badan semakin kaku. Tapi sedingin-dinginnya suasana Pos 10, lebih dingin lagi sikap dia ke saya akhir-akhir ini (curhat). Di Pos 10 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Terdapat tiang bendera dan sumber air (sumur) namun agak kurang bersih terlihat.

Perjalanan ke Pos 10
Perjalanan ke Pos 10

 

Puncak (2830 mdpl)

Alhamdulillah, sampai juga di Top of Gowa. Inilah 2830 mdpl pertamaku. Sangat Indah pemandangan dari atas. Disini kita bisa melihat awan yang seolah-olah menyerbu bukit. Seperti di syurga, ingin berlama-lama disini.

Satu hal terpenting yang saya dapat di pendakian kali ini, kalau ingin melihat “syurga dunia” berupa hamparan awan dan bukit harus membutuhkan waktu 10an jam, toh apalagi bila ingin melihat syurga sebenarnya di akhirat, pasti membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dibandingkan cuma melakukan pendakian.

 

Puncak Bawakaraeng
Puncak Bawakaraeng

 Sekali lagi, Ini Bukan Syurga, Ini Indonesia

Untuk dokumentasi Perjalanannya, bisa dilihat pada video di bawah

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri ­čÖé .

Air Terjun Bissappu, Syurga Di Dekat Kota Bantaeng

Ahad, 1 februari 2015. Selepas mengajar di tanete dan ber-narsis ria di wisata bahari bulukumba , saya putuskan untuk balik ke makassar mengingat menumpuknya amanah yang wajib ditunaikan disana. Ditemani si sophie (motor matic) yang masih gagah menopang badan dan carrier yang bobotnya sekitar 75kg (nggak penting).

Tiba di bantaeng, waktunya mata dimanjakan dengan indahnya kota ini. Pantai seruni, deretan sawah yang berbatasan langsung dengan laut, serta latar gunung bawakaraeng yang kokoh membiru benar-benar memanjakan mata ini. Kerapian kota ini juga membuat saya kagum.

Deretan Sawah di Bantaeng
Deretan Sawah di Bantaeng

kamu merasa anak manja?
berpetualanglah !!
karena berpetualang sungguh memanjakanmu !!

Asik menikmati perjalanan di kota bantaeng, motor agak saya pelankan sedikit ketika melihat sebuah papan penunjuk yang bertuliskan “Air Terjun Bissappu 5 KM“. Penunjuk arah ini sangat jelas terlihat di jalan poros bantaeng. Rasa penasaran pun muncul ingin melihat syurga itu. Siapa tau aja ada “dewi” lagi nyuci baju disana.

Selama perjalanan menuju Air terjun Bissappu ini, lagi lagi saya kembali dimanjakan dengan pemandangan sengkedan sawah yang tersusun rapi. Pohon pohon yang rindang serta senyum ramah penduduk yang mayoritas petani semakin membuat tenang perjalanan ini.

5 Kilometer telah terlewati, saya dihadapkan dengan gerbang air terjun bissappu. Terdapat seorang tua yang sedang bertugas menjaga pos jaga. oh iya, untuk masuk ke tempat wisata, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp.7500, terdiri dari uang masuk dan uang parkir motor. Dari tempat parkir motor sudah terdengar jelas suara air yang saling berterjunan secara berjamaah. Langsung saya buru-buru kesana untuk melihatnya.

Air Terjun Bissappu, Bantaeng
Air Terjun Bissappu, Bantaeng

Jarak dari tempat parkir ke pusat air terjun cukup dekat, sekitar 5 menit-an jalan kaki. Di awali dengan melewati beberapa anak tangga yang tersusun rapi, dan bebatuan besar yang menghadang di depan.  Jalan kaki kali ini ditemani musik alami dari irama serangga yang bersuara bising.

Setelah itu ? Masya ALLAH ! saya benar-benar melihat syurga itu. Indah, Sejuk, Hijau, Nyaring dan menentramkan. Air terjun yang kira-kira tingginya 7 meter itu menjatuhkan debit air dalam ukuran besar. Jernih ! saya langsung naik ke salah satu bebatuan besar dan berteriak sekencang-kencangnya tanda kepuasan itu telah saya raih. “ALLAAAHU AKBAR !!”. Tenang rasanya.

Saya berbaring sebentar di bebatuan dan nyaris tertidur akibat kelelahan ber-“jokka” seharian penuh. Saya sempat menengok keadaan di air terjun dan saya baru sadar, ternyata saya benar-benar sendiri disini. Bodo Amat ! Yang jelas saya menikmati syurga dunia ini lagi. Tak lupa salah satu hal wajib yang saya lakukan ketika berada di tempat amazing, poto-poto. Beberapa objek saya dapatkan dari angle berbeda. Hmm, biar dari angle manapun, kalau alamnya sudah indah, yah fotonya pasti indah juga.Mata lagi-lagi dimanjakan dengan “penampakan” pelangi 1 lingkaran penuh yang menghiasi air terjun, kebetulan karena bertemu dengan cahaya matahari langsung. Ahh, membuat istirahat saya semakin terasa lelap di pembaringan bebatuan.

Di bawah Air Terjun Bissappu, Bantaeng
Di bawah Air Terjun Bissappu, Bantaeng

Tak lama kemudian, ada pengunjung baru yang datang (ALHAMDULILLAH). Setidaknya saya tak “Kosong” lagi. Mereka adalah Arif dan temannya (saya lupa namanya). Mereka ternyata berdomisili di makassar yang kebetulan juga datang dari festival pantai samboang , bulukumba. Untungnya mereka ada, setidaknya ada yang bisa memotretku di air terjun ini. Ternyata mereka juga butuh bantuan saya untuk memotret mereka. Senang tentunya bisa memberi manfaat kepada orang lain walau itu cuma foto foto saja.

Kami berjalan mendekati sumber jatuhnya air itu. Behh, dingin , bising, dan basah. Pakaian sisa dan Tas carrier yang kubawa menjadi basah. sekali lagi, Bodo Amat ! Saya sudah tak peduli lagi ketika sudah terbuai dengan kenikmatan alam ini. Yah, seperti itulah perjalananku. Perjalanan solo, sang jolang (jomblo petualang). Saya akan selalu mengingat keindahan syurga ini. ALHAMDULILLAH, atas nikmat indera ini .

Jadi, Anda orang bantaeng, tapi tidak pernah ke tempat ini? Kebantaengan anda dipertanyakan . ­čÖé

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri ­čÖé .

Bulusaukang, Sebuah Expedisi yang Gagal

Bulusaukang, pertama kali tau Bulu (Gunung) ini dari komunitas Makassar Backpacker yang katanya sangat keren karena bisa melihat kelap-kelip lampu di kota makassar. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, perjalanan naik motor mungkin sekitar 30 menit (gak pake rem). Tepatnya di kecamatan Tompo Bulu, Maros. kalo dari makassar, belok kanan saja ketika melewati bandara lama, terus-terus hingga melewati Asrama Kodam Kariango, hingga masuk di sekitar pucak.

Masalah persiapan, saya pun masih seperti kegiatan-kegiatan pendakian sebelumnya. Cuma bermodal semangat tinggi (tanpa olahraga) dan dibekali 2 roti yang berharga seribu dan 2 bungkus energ*n. Mungkin karena terlalu menganggap pendakian kali ini cukup mudah mengingat ketinggian gunung ini katanya “hanya” 500an mdpl. Lagian saya pun selalu berpikiran, kalau masalah asmara saya mungkin jauh lebih berat dari sekedar melakukan pendakian beribu-ribu mdpl. 3:)

Sabtu, 24 Januari 2015. Pendakian saya lakukan seorang diri, mungkin karena takut merepotkan teman-teman nantinya. Niat kesana pun murni untuk jalan-jalan saja dengan modal rasa penasaran, sekalian juga ingin menuliskan ucapan selamat untuk teman komunitasku yang sudah yudisium di puncak nantinya.

oke, Sampailah di suatu masjid, lupa juga dengan nama masjidnya. yang jelas, tepat di depan masjid itu sudah membentang si saukang. Saya cukup percaya kalau memarkir motor di sekitar masjid itu masih aman. Dengan sedikit percaya diri, menelusuri jejak-jejak yang masih membekas di sepanjang perjalanan. Awalnya hanya melintasi padang rumput yang luas, ditemani sapi-sapi yang dititipkan di padang itu.

Setelah melewati padang rumput, terdapat sebuah sungai kecil yang memisahkan dataran pemukiman warga dan daerah hutan saukang. cukup deras alirannya, hingga membuatku hampir jatuh dan tak bisa bangkit lagi #ehh. Masih ada sekumpulan sapi disitu. jadi masih cukup “ramai” saya rasa.

Sungai sudah dilewati, saatnya melewati “hutan” bambu. jalur pendakian masih jelas terliat dengan banyaknya jejak kaki maupun jejak sapi yang tertinggal. Sudut elevasi gunung mulai meninggi, lumayan lelah juga karena lintasannya licin, tapi masih aman lah.

Oke, hutan bambu sudah terlewati. Sekarang harus melintasi deretan batu-batu kecil yang lumayan licin. Entah apa yang membuat bulu kudukku tiba tiba langsung merinding. saya coba melihat di sekeliling, namun tak ada hal-hal yang menakutkan saya liat. Setelah berjalan di bebatuan, sempat terpeleset sedikit hingga tangan terjatuh. Dan benar saja, ada kaki seribu besar saya lihat, pantas saja dari tadi merinding. Mungkin ini salah satu hewan yang kadang buat saya merinding. Tak tahu juga apa sebabnya. dengan tergesa-gesa saya langsung bangkit untuk menghindari hewan tersebut.

Dengan suasana cemas, saya melanjutkan perjalanan. Sialnya, saya memang berada di “markas” si kaki seribu tersebut. setiap langkah mungkin saya bisa melihat hewan tersebut. Sekali lagi, saya tak takut, cuma langsung merinding saja melihatnya. Untungnya ini hewan ini buta, berjalan lambat. Tak bisa kubayangkan bila ukurannya seperti anak kucing, bisa melihat dan bisa terbang.

Mungkin jumlah yang saya lihat sepanjang perjalanan sekitar ratusan ekor. Entah, Apa rasanya bila berada di suatu tempat asing, sendiri, dan dikelilingi ratusan hewan yang membuatmu merinding. Sampai sampai sedikit bernyanyi untuk menghibur diri.

Naik naik ke puncak gunung, Tinggi tinggi Sekali

Kiri-Kanan Kulihat Saja, Banyak Kaki Seribu -_-

Setelah lama dibuat menderita batin dengan melewati segerombolan hewan tersebut, selanjutnya tiba di bongkahan batu besar. Puncak Saukang terlihat jelas dari batuan tersebut. Kalau dikira-kira, mungkin sekitar 10 Meter lagi ketinggiannya. Yah, istirahat dulu. Lumayan Tenaga agak terkuras karena panik. Roti 2 buah yang sudah dipersiapkan terpaksa harus saya habiskan untuk mengembalikan tenaga. Tapi ternyata kurang, Sedikit sadar juga ternyata memang saya terlalu menyepelehkan masalah logistik. Pembelajaran berharga untuk saya ­čÖé .

Tenaga sudah mendingan , selanjutnya meneruskan perjalanan. Sialnya , tak ada satupun jalur yang saya lihat untuk menuju ke puncak. Saya sudah mengelilingi sekitar bebatuan, tapi memang tak ada jalur yang nampak. sekarang ada 2 opsi, apakah memaksa lanjut agar bisa melihat keindahan puncak dan menuliskan ucapan selamat yudisium teman di atas sana, ataukah menyerah dulu dan mundur untuk mencari aman. Sempat bimbang, terpaksa saya tidak ingin mengikuti ego untuk memaksakan diri naik ke puncak. Mungkin, “Mundur” adalah keputusan yang paling tepat.

Perjalanan Turun dari 3/4 saukang saya mulai dengan kebingungan. Dalam hati berkata “Lewat mana meka tadi itu??”. Bingung sebingung-bingungnya, berusaha mencari jejak kaki, tak ketemu-ketemu. Bukannya petunjuk saya temukan, lagi-lagi segerombolan kaki seribu saya dapatkan. Saya cuma bisa bilang, “Tidak takut mka, sudah biasama lihatko”. Terpaksa cuma pakai insting saja, cukup lewati dataran yang menurun. Yang saya pikir saat itu bagaimana caranya saya sampai di sungai, karena itu cuma satu-satunya tempat penanda yang saya ingat. Saya turun, tapi sungainya tidak dapat-dapat. Saya malah masuk ke daerah yang tak saya jumpai sebelumnya. “Wahh, Nyasar nih kayaknya”. Tetap harus berpikir positif, pokoknya saya harus turun kembali.

Adzan ashar mulai terdengar, saya masih sibuk mencari sungai kecil. Akhirnya saya dengar suara aliran air dari kejauhan, sayangnya cuma aliran kecil tapi setidaknya penanda kalau jalan saya memang sudah benar. saya ikuti terus aliran air itu dan Alhamdulillah, Benar saja aliran itu mengantarkan saya menuju ke sungai.

Apesnya, Saya juga lupa, di bagian mana sungai tadi saya lalui, karena memang banyak potongan-potongan jalan menuju ke rumah penduduk. Masih dengan modal “insting” dan “nekat”, saya memilih salah satu jalur, dan Alhamdulillah saya sampai di rumah warga dan terus menuju ke jalan raya.

Lagi-lagi apes, saya sudah sampai di jalan raya, tapi dalam hati berkata lagi, “Ini dimana? Kok jalan awalnya beda dengan jalan akhirnya?”. ternyata saya nyasar lagi, sempat bertanya-tanya ke warga tentang keberadaan masjid, ternyata saya lewat sekitar 500 meter. lumayan melenceng juga nyasarnya. Alhamdulillah , Sampai di masjid dengan selamat sentosa.

Masih Apes lagi? ketika ingin pulang, tiba-tiba kunci motor hilang. sempat berpikir, mungkin kuncinya tertinggal di bebatuan besar tempat istirahat. Sempat ingin kembali ke gunung untuk nyari kunci, tapi ah gak usah lah. Mending nyari bengkel saja untuk “hack” kunci motornya. Ketika mulai mengangkat motor, datang seorang remaja masjid menghampiri, dan bilang “Tabe’, ini kunci motorta tertinggal tadi disini”. “ALHAMDULILLAH !!!”. Seperti lepas 2 paku di kepala, begitu melegakan. Uang di dompet tinggal 65ribu, saya kasi saja 50ribu untuk ucapan terima kasih ke beliau walau sempat dia tolak. sekali lagi, “ALHAMDULILLAH”.

Mungkin Ekspedisi bulusaukang ini bisa dikatakan gagal, tapi setidaknya banyak pelajaran yang saya dapatkan. paling penting adalah,

  1. kenali medan/gunung yang akan dilalui. buatlah penanda jalan yang sudah dilalui, namun jangan sampai merusak tanaman disana.
  2. Persiapkan fisik se-fit mungkin. modal semangat tak cukup untuk bisa mengantarmu ke puncak (kecuali puncak kelelahan).
  3. Logistik harus dipersiapkan semaksimal mungkin, kegiatan outdoor memang menguras kalori yang besar. kalau cuma bermodalkan 2 roti seharga seribu/satu , mana bisa bikin kenyang.
  4. Kalau bisa, cek dulu motornya, siapa tau kuncinya masih nempel di motornya.
  5. jangan takut kaki seribu. hehehehehh

sekian, Insya ALLAH pendakian berikutnya masih akan saya lanjutkan. saya masih ingin melihat syurga itu ­čÖé

 

Bukan kegagalan yang kutakuti, tapi tak adanya ilmu dan pengalaman baru yang kudapatkan setiap hari . @awalone

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri ­čÖé .

Spermonde, perjalanan panjang ke pulau cangke (part 2)

Sabtu, 18 oktober 2014. Disambut dengan cuaca yang cerah di pagi hari, juga fisik yang udah sedikit prima gara-gara sudah bekam semalam. Hari itu rencana ingin berbolang ke pulau cangke yang ternyata letaknya itu sudah masuk di zona kabupaten pangkep, wooww! sebenarnya saya cuma berstatus “numpang” di acaranya orang, yang dikomandoi oleh teman baru saya, kak dani yang juga sesepuh dari komunitas PERSIA (Pecinta Alam Republik Indonesia). Saya juga mengajak teman kuliah saya, si baizul, lumayan ada yang bertugas motoin.

Janjinya sih ketemu di dermaga paotere jam 8 pagi. Saya pun baru pertama kalinya ke dermaga itu. sedikit takjub juga melihat deretan kapal pinisi yang berlabuh disana untuk memasukkan atau mengeluarkan barang bawaannya. yah, sempatkan lah untuk memotret beberapa momen disana sambil menunggu teman-teman yang lain sekitar 20an untuk datang.

Pelabuhan Paotere, Makassar
Pelabuhan Paotere, Makassar

Nah, proses menunggunya ini, sampai 3 jam akhirnya udah disuruh naik ke kapal. gak tau juga apa sebab keterlambatannya. mungkin inilah uniknya indonesia :D. heheheheh. eh, tak lupa, ternyata dalam rombongan itu ada juga beberapa turis mancanegara. ada yang berwarga australia, jepang, ada juga 3 anak kecil yang semuanya jago bahasa inggris -_-. Wisatawan laki-laki yang tua sempat berbicara denganku. saya gak tau apa yang dia bicarakan. pokoknya cara bicaranya mengingatkanku pada kegagalan test listening TOEFL. ada pun salah satu anak si bule ngomong juga ke saya yang kali ini saya paham maksudnya, yaitu “kita lewat dimana?” . Dengan gagahnya aku bilang “There” sambil nunjuk lorong kapal.

Oke, lanjut di perjalanan, setelah melewati dermaga paotere yang airnya hitam pekat , akhirnya perlahan air laut yang terlihat mulai jernih, biru muda, dan finally udah biru tua yang menunjukkan kedalamannya masing-masing. sempat saya bertanya sama salah 1 dari 40an penumpang di kapal, “berapa lama itu ke cangke?”, “kira-kira 3 jam”. hamma’ , ehh waduhh, 3 jam di atas kapal dengan matahari terik, sepertinya ini badan tinggal diolesin garam udah bisa jadi ikan kering. tak apa, itu sudah nasib yang harus saya jalani. lagian ada banyak hal yang bisa dilakukan, berbicara dengan kenalan baru, curhat tentang thesis yang gak kelar-kelar dengan si baizul, hingga sedikit dibuat termenung oleh kuasa ALLAH yang telah menciptakan Bumi yang begitu besar dan indah ini dengan lautan yang sangat luas.

Tak jarang di perjalanan di laut saya disuguhkan dengan penampilan ikan terbang yang seolah-olah memamerkan keahliannya yang melompat dari dalam laut ke udara. tak jarang juga saya melihat pasangan burung laut (tidak tau spesiesnya) yang saling beterbangan seolah-olah ingin mengeledekku “emang kamu bisa diburu ama pasangan ?” -_- . tapi, yah nikmati saja tingkah hewan-hewan itu. mereka semua special.

1.5 jam sudah berada di kapal sambil memegang apa saja yang bisa dipegang untuk jaga-diri biar gak terbuang dari kapal, akhirnya sampai di sebuah pulau. saya lagi-lagi bertanya dengan polosnya ke pak nahkoda, “pak inimi yang dibilang pulau cangke?”. dengan tatapan yang meyakinkan beliau bilang , “bukan, ini pulau lankadea”. wuih , keren, airnya jernih, ukurannya tak jauh berbeda dengan pulau jin kura-kura (serial dragon ball), sepi, banyak pohon, pasirnya putih, cuma terdiri dari 1 bangunan itupun lebih mirip seperti mesjid sebenarnya. kapal singgah kesana karena ternyata ada beberapa penumpang yang ingin kesana (ceritanya kapal lagi transit). sambil menunggu proses turunnya penumpang, beberapa penumpang lain yang ingin ke cangke melanjutkan tradisi yang lagi ngetren saat ini, iya “SELFIE”. semua sibuk pasang gaya, sementara saya masih sibuk dengan mencari objek foto, dan saya menemukan dermaga rusak. sepertinya bagus untuk dijepret. ­čÖé

Pulau Lankadea
Pulau Lankadea

Oh, iya sebelum mencapai pulau lankadea, saya pun menemukan banyak pulau-pulau kecil lainnya yang tersebar di selat makassar ini. mulai dari pulau yang berpenghuni, tidak berpenghuni, sampai pulau yang hampir jadi pulau. lah, maksudnya pulau ini kadang tenggelam, kadang juga muncul. mungkin beberapa gugusan inilah yang disebut dengan spermonde.

Okeh, lanjut lagi perjalanannya. kali ini “kencan Ombat”. maksudnya ombaknya kencang. kali ini kapal telah terombang-ambing, mungkin sama ketika si doi menyuruhku install laptopnya, tapi ternyata yang saya install itu laptop pacarnya (curhat). saya pun benar-benar dipaksa untuk memegang lebih erat lagi kapalnya. tak jarang bagian depan kapal seperti terbang , tak menyentuh air (coba bayangkan). hampir selama 30 menitan saya rasakan momen itu.

dan akhirnya, sebuah pulau kecil , dengan berlatar biru awan, beralas pasir putih, dan berhias beraneka ragam warna daun pohon yang hijau, orang, dan kecoklatan. gradasi warna laut di pantainya pun sangat nampak jelas perbedaan warnanya. ternyata sudah sampai di pulau cangke. apes, ternyata kapal tidak bisa sampai ke dermaga karena bisa nyangkut oleh karang. terpaksa turun ke laut dengan kedalaman hampir sepinggang. jarak yang ditempuh untuk berjalan kaki dari kapal ke daratan sekitar 40 meter dengan rintangan untuk tidak menginjak terumbu karang (karena pertumbuhan terumbu karang cuma 1 cm dalam 1 tahun), dan juga tidak menginjak bulu babi (ya iyalah). ­čśÇ

Dermaga Pulau Cangke
Dermaga Pulau Cangke

yah, segitu saja dulu untuk part perjalannya. nanti saya coba lengkapi lagi ­čÖé

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri ­čÖé .