Ada Pinisi di Pantai Kaluku, Bulukumba

Alkisah (hehehe, kayak almari saja *pengganti kata lemari) perjalanan kami setelah menikmati manisnya gula merah dan dibuat sedikit bingung dengan bahasa konjo dari sang ammatoa, kami berlanjut untuk menikmati “inti” dari keindahan bulukumba. yap, pastilah banyak yang mengenal bulukumba dengan wisata baharinya. mungkin orang lain taunya wisata bahari di kota ini hanyalah pantai bira semata, tapi coba deh ditelusuri lagi, pastinya kita akan dipaksa terkagum-kagum dengan banyaknya pantai-pantai yang justru bisa dibilang lebih “nyaman” dari pantai bira yang selalu sesak.

Salah satu pantai yang kami kunjungi adalah pantai kaluku. kami sebenarnya ingin sekali ke bira, namun taulah kondisi disana yang sangat ramai, jadinya bisa mengusik ketenangan dalam berlibur. kami juga ingin sekali mengunjungi pantai bara, tapi perjalanan kesana harus melewati jalur yang di sepanjang jalan malah terdapat pub karaoke (kalau di makassar biasa disebut dengan “nusantara”) takutnya niat kami berlibur malah berubah 3:) .

Pantai Kaluku Bulukumba
Pantai Kaluku Bulukumba

Lokasi pantai kaluku ini terletak sebelum pelabuhan bira. jadi kalo dalam perjalanan di desa bontobahari , lalu melihat konstruksi perahu phinisi yang sementara dikerjakan, nah siap-siap belok kiri, turun dan terus deh ikutin jalan tikus. insya ALLAH langsung sampai di tempat parkiran. ehh, perahu phinisi ? bukannya pembuatan perahu phinisi adanya di tanaberu? saya juga baru tau ternyata ada tempat selain tanah beru untuk membuat perahu phinisi.

Ngomong-ngomong tentang pinisi, kapal ini merupakan alat transportasi tradisional masyarakat bugis yang sudah eksis sejak abad ke 14 dan dibuat oleh Sawerigading. Untuk membuat kapal ini, diperlukan kayu dari pohon walenreng yang konon sebelum pohonnya ditebang harus diadakan “ritual khusus” dulu. pembuatan Kapal yang berukuran raksasa ini hanya bisa ditemukan di kabupaten bulukumba saja. itulah kenapa bulukumba dijuluki sebagai Butta Panrita Lopi, yaitu bumi atau tanah para ahli pembuat Perahu  Pinisi.

Kapal Pinisi
Kapal Pinisi (Underconstruction)

Kembali ke pantai kaluku, area parkiran yang disediakan cukup luas. selain itu tersedia juga beberapa resort bagi yang ingin bermalam. Tapi kalau yang ingin lebih alami, mending buat tenda saja di pantainya , dijamin lebih dingin dan lebih dekat dengan alam. Pasir putihnya halus, gradasi warna biru lautnya pun seperti ada pembatas antara biru muda dan biru tua. suasananya sangat tenang dan sepi, seperti pantai yang masih “perawan”. Pokoknya pantai ini sepertinya sangat recommended bagi yang ingin mencari ketenangan dan mencari jati diri (apaan sih).

Ingin naik untuk melihat pembuatan kapal pinisi ? ALHAMDULILLAH, saya dikasi kesempatan untuk naik ke atasnya. saya pun dibuat terkagum-kagum melihat proses pembuatan kapal ini. semua masih bersifat tradisional (kecuali pakai ketam listrik). mereka sama sekali bukan alumni arsitektur universitas. keahlian yang mereka miliki hanyalah warisan dari generasi sebelumnya. Buku-buku tentang pembuatannya pun tak ada, apalagi video tutorial di youtube 🙂 .

Oh lupa, di setiap jalan-jalan pastilah ada dokumentasinya dalam bentuk video, jadi yang merasa pusing baca gaya tulisannya, bisa lihat saja videonya dan rasakan bagaimana suasana disana. 🙂

Saya cuma berharap tradisi pembuatan kapal pinisi ini masih bertahan, setidaknya anak muda disana tetap bangga berkarya dan meneruskan keahlian mereka ke anak-anaknya. Budaya itu memang mahal !!

Jangan habiskan hidup hanya antara bangunan, jalan setapak, kendaraan, itu-itu saja..
Jangan habiskan pagi, siang, sore, malam di jendela yang sama, menghela nafas seolah lega..
Jangan habiskan hari dengan hanya bermimpi melihat dunia..
keluarlah.. karena diluar sana, di belahan bumi yang lain banyak kejutan luar biasa yang tak kau dapatkan jika kau hanya berada ditempatmu berdiri saat ini

-Tere Liye-

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Yang Lebih Manis dari Gula Merah

Bulukumba, yang saya tahu adalah ammatoa di kajang, perahu phinisi di tanaberu, tanjung bira bontobahari, kebun karet lonsum, dan musim buah-buahan bak kerikil di jalanan setiap bulan februari hingga april di sepanjang tanete. Sampai akhirnya saya temukan lagi satu potensi besar yang ada di kabupaten ini. iya, di sebuah kampung Herlang , merupakan penghasil nira kelapa terbesar (selain selayar dan jeneponto) yang merupakan bahan baku pembuatan gula merah di sulawesi selatan. Nira kelapa ini digunakan penduduk untuk membuat gula merah, berbeda dengan di kabupaten jeneponto yang biasanya memanfaatkan Nira ini sebagai minuman khas Ballo’.

Sabtu , 22 september 2014 lalu bisa jadi salah satu hari dimana aku bisa banyak mendapat ilmu baru. Gula Merah yang selama ini hanya bisa saya kenyot, akhirnya saya punya kesempatan untuk bisa melihat proses pembuatannya dari penyadapan nira kelapa (tuak) hingga proses pencetakannya.

Oh, saya lupa memperkenalkan junior di kampus , Jusman, begitu panggilan akrabnya mencoba memandu dan menjelaskan kepada saya dan teman yang lain (panggil saja dengan sebutan “kami”) tentang cara cara proses pembuatannya. Adapun penjelasan si jusman malah menambah kosakata baru dalam otak saya, seperti tuak, pippili’, mettepe, rakki’, dan manisang.

Awal dari pembuatan gula merah adalah proses penyadapan nira kelapa. nira kelapa yang disadap selama setengah hari ini dikumpulkan di sebuah jerigen yang diikat di batang pelepah niranya. 1 pohon kelapa yang disadap selama setengah hari kadang hanya menghasikan tidak lebih dari 1/4 isi jerigen. oh iya, oleh penduduk sini sari nira ini dinamakan dengan sebutan “tuak” karena memang nira ini biasa disajikan sebagai minuman ballo’.

Setelah sari nira (tuak) terkumpul, tiba saatnya untuk melakukan proses memasak yang prosesnya sekitar 4 jam. nah, tuak yang mendidih ini dinamakan sebagai “manisang”. kalau ingin meminum manisang ini, sebaiknya tunggu sampai dingin dulu, soalnya saya pernah coba versi yang mendidih dan rasanya benar-benar “melepuh”. pada saat melakukan proses memasak nira dan mulai muncul banyak busa, jangan lupa untuk menaburkan kelapa parut yang sudah disangrai ke dalam wajan agar buih nya tidak sampai tumpah (agar tidak mubassir).

Belum yakin apakah nira yang dimasak udah jadi gula atau belum ? ada yang namanya proses “mattepe” yaitu proses untuk menguji apakah gula merahnya sudah jadi atau belum. bila hasil nira yang dimasak sudah menjadi merah, coba lah untuk mengambil sedikit air yang ada di wajan, kemudian masukkan ke dalam air. Bila nira yang dimasukkan sudah mengeras, maka gula merahnya sudah jadi. 😀

Proses Mengaduk Gula Merah dan So'ri
Proses Mengaduk Gula Merah dan So’ri

Langkah berikutnya ada 2 pilihan, yaitu apakah kita ingin membuat so’ri, ataukah ingin lanjut ke proses pengadukan gula merah. so’ri sendiri adalah olahan gula merah yang dimasak tanpa proses pengadukan. jadi gula merah tadi langsung dikeringkan saja, dan sifatnya sangat lengket seperti karamel. penduduk setempat menilai itulah keunikan dari gula merah, bila di aduk gula merahnya mengeras, sedangkan kalau didiamkan maka gula merahnya bersifat lengket.

Proses Pencetakan Gula Merah
Proses Pencetakan Gula Merah

Oke, untuk opsi kedua, yaitu melanjutkan ke proses pencetakan, cukup aduk dulu gula merahnya tadi dan segera tuang ke bambu pencetak (kebetulan gula merah disini bentuknya silinder jadi pakai bambu). proses pengeringan gula merah hanya sekitar 5 menitan saja. sisa-sisa gula merah yang ada di wajan yang mulai mengeras disebut dengan “rakki” , teksturnya lembut dan berpasir. sedangkan sisa-sisa pada proses pencetakan yang “keluar jalur” dari pencetak disebut dengan pippili’, biasa dijadikan cemilan.

Jenis-jenis Olahan Gula Merah
Jenis-jenis Olahan Gula Merah

kalau merasa pusing dengan bacaan di atas, lihat aja deh video ini 😀

Setelah merasakan semua proses dan mencicipi bagian-bagian dari proses pembuatan, saya jadi sadar, ini lebih manis dari gula merah yang saya cicipi di kota sebelumnya.

ya, ketika saya bisa merasakan cara pembuatannya dari proses penyadapan nira kelapa hingga proses pencetakannya.
ya, ketika saya bisa merasakan manis dan harumnya nira kelapa yang mendidih.
ya, ketika saya bisa merasakan lengketnya karamel gula merah.
ya, ketika saya mengetahui istilah-istilah baru dalam proses pembuatannya seperti tua’, manisang, so’ri’, rakki’ maupun pippili’.
ya, ketika saya bersyukur bahwa ada dari mereka yang begitu tawakkal dalam mencari rejeki, mereka mengharapkan kelapanya tetap subur untuk bisa menghasilkan nira kelapa.

Mungkin sama seperti nikmatnya orang beribadah karena mengetahui dalil dari pada beribadah hanya sekedar mengikuti gerakan2 imam.
hmmm, mungkin yang terbaik adalah ketika kamu mengamalkan ilmu, bukan sekedar mengamalkan tanpa dasar ilmu.

 

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Bukan Grand Canyon, Bukan Pula Niagara, Tapi Air Terjun Parangloe

kalau orang-orang biasanya menyebut air terjun parangloe adalah bantimurung kedua, saya malah akan berkata kalau bantimurung itu adalah air terjun parangloe kedua.

kalau tidak salah, saya udah penasaran mencari tempat ini selama 5 tahun. entah banyak kendalanya, mulai dari malas mencari lokasi, sampai tak ada teman yang bisa diharap untuk diantar ke tempat ini. tapi pada tanggal 16 agustus 2014 kemarin saya main nekat saja untuk menghilangkan rasa penasaranku pada keindahan air terjun tersebut yang selama ini hanya saya lihat di wallpaper desktop komputer teman.

untuk menuju ke tempat ini, yah lumayan mudah lah untuk dijangkau. kalau berdomisili di makassar, waktu yang ditempuh gak sampai 1 jam untuk langsung bisa menikmati keindahan disini. lokasinya itu sebelum waduk bili-bili. agak nyesal lupa memotret rute perjalanannya, tapi coba tanyakan saja ke penduduk setempat di sekitaran jalan poros gowa-malino, rata-rata mereka tau lokasinya.

air terjun parangloe
air terjun parangloe

okeh, sampailah saya di lokasi tersebut sekitar pukul 11 siang. saya perginya sendiri, dan ketika tiba disana, saya benar-benar sendiri. iya, sendiri. di hamparan air terjun itu cuma saya saja yang menikmati keindahannya. benar-benar sunyi. padahal bila dibandingkan dengan bantimurung, panorama di air terjun ini sangat mengagumkan. dinding batunya seolah-olah seperti grand canyon yang ada di amerika sana. pemandangan dari jauh benar-benar seperti wallpaper air terjun lebar yang banyak bertebaran di internet. kalau mungkin ada orang yang nantinya bertanya sama saya , “apa itu yang sepi namun menakjubkan?” , mungkin saya akan menjawab “air terjun parangloe”.

air terjun parangloe
air terjun parangloe

setelah menikmati keindahan air terjun ini sekitar 30 menit, datang warga sekitar menghampiri saya. mungkin dia heran kok ada orang yang begitu menikmati liburannya seorang diri, apa gak kesepian tuh? heheheheh. nama beliau adalah pak syarif. dia warga sekitar. beliau menceritakan tentang kejadian beberapa bulan lalu di air terjun ini yang menelan 3 korban jiwa akibat air bah yang tiba-tiba muncul. iya, Air terjun ini memang terkenal angker karena biasanya air Bah muncul dengan tiba-tiba. selain tentang musibah air bah, beliau juga sempat curhat ke saya mengenai keluhan dia karena pemerintah agak kurang mempromosikan wisata ini ke luar, sehingga sangat jarang penduduk luar masuk menikmati air terjun ini. beliau sangat berharap agar air terjun ini benar-benar bisa menjadi sumber mata pencaharian beliau seperti buka warung, penginapan, atau apalah seperti tempat wisata lainnya yang menyediakan UKM.

ohh, tadi cuap-cuapnya, bagi yang ingin melihat video suasana disana, berikut saya lampirkan .

sekali lagi, nikmati masa muda mu, jangan kau habiskan hanya di meja, jendela, dan bangunan yang sama setiap harinya. banyak hal-hal menakjubkan lainnya yang menunggumu disana.

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Syurga Kecil di Atap Pangkep(Pendakian ke Bulusaraung)

sabtu, 04:00 pagi 15 maret 2014, mata sudah terbuka lebar. Tidak ada rasa ngantuk yang masih tersisa. mungkin karena ada semangat atau juga ada rasa panik yang menghampiri, mengingat hari itu saya harus melaksanakan mata kuliah wajib saya (Berlibur) ke gunung bulusaraung dengan seorang diri. yah, seorang diri. bukan bermaksud sok jago, mau dibilang pendaki senior, atau apalah. sejujurnya saya lebih suka pergi beramai-ramai dengan sahabat. tapi mungkin mereka sibuk.

pukul 8 pagi udah pergi meninggalkan rumah menuju ke kecamatan bolucci, pangkep. Tempat persinggahan pertama sebelum melakukan pendakian. di tempat ini kita bisa menyimpan kendaraan kita. tapi tetap dikenakan biaya sekitar 6ribu rupiah. jangan lupa untuk melapor dulu ke pos penjagaan disitu.

Pemandangan Dari Pos 2 Bulusaraung
Pemandangan Dari Pos 2 Bulusaraun

Tibalah pemberangkat ke lokasi camp yang ada di POS 9 dengan perkiraan perjalanan selama 2 jam. Di perjalanan pos 1 ke pos dua, disuguhi dengan pemandangan sawah yang luar biasa indahnya. dengan rentetan sengkedan yang tersusun rapi yang mulai menguning, ditambah dengan barisan awan yang begitu tebal. untuk ke pos 1 ke pos 2, MASIH KUAT.

Tiba di trek penyiksaan, ya ! Pos 2 ke Pos 3 adalah Trek yang paling menyiksa dalam perjalanan menuju ke puncak. setiap berjalan setidaknya wajah pun harus menghadap ke atas 60 derajat. jaraknya pun cukup jauh, 320 meter dengan trek sangat terjal. mungkin di trek ini lah yang membuat betis saya keram dan hampir pingsan (maklum , sarapannya dikit). walah terpogah-pogah, yah sampai juga. setelah sampai ke pos 3, perjalan sedikit lebih mudah hingga menuju ke pos 9.

Tenda yang kehujanan
Tenda yang kehujanan

sampai di pos 9, langsung dirikan tenda, ambil air, sholat, istirahat sambil baca buku. baru kali ini merasakan nikmatnya baca buku dalam kesendirian. tak lama, hujan tiba tiba turun dengan deras. karena lupa buat lubang saluran air, akhirnya, tenda malah dimasukin air. heheheheheh.

hujan selesai pada pukul 4 sore, waktunya ke puncak untuk nikmati keindahan yang ada disana. sekedar info, trek menuju ke puncak bener-bener puncaknya tanjakan. mungkin lebih parah dari pos 2 ke 3. tapi karena di atas itu udah puncak, jadi capek udah gak ingin dirasa lagi karena keinginan melihat keindahan puncak udah gak terbendung lagi.

 

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .