Dermaga Pulau Cangke

Sabtu, 18 oktober 2014. Disambut dengan cuaca yang cerah di pagi hari, juga fisik yang udah sedikit prima gara-gara sudah bekam semalam. Hari itu rencana ingin berbolang ke pulau cangke yang ternyata letaknya itu sudah masuk di zona kabupaten pangkep, wooww! sebenarnya saya cuma berstatus “numpang” di acaranya orang, yang dikomandoi oleh teman baru saya, kak dani yang juga sesepuh dari komunitas PERSIA (Pecinta Alam Republik Indonesia). Saya juga mengajak teman kuliah saya, si baizul, lumayan ada yang bertugas motoin.

Janjinya sih ketemu di dermaga paotere jam 8 pagi. Saya pun baru pertama kalinya ke dermaga itu. sedikit takjub juga melihat deretan kapal pinisi yang berlabuh disana untuk memasukkan atau mengeluarkan barang bawaannya. yah, sempatkan lah untuk memotret beberapa momen disana sambil menunggu teman-teman yang lain sekitar 20an untuk datang.

Pelabuhan Paotere, Makassar

Pelabuhan Paotere, Makassar

Nah, proses menunggunya ini, sampai 3 jam akhirnya udah disuruh naik ke kapal. gak tau juga apa sebab keterlambatannya. mungkin inilah uniknya indonesia :D. heheheheh. eh, tak lupa, ternyata dalam rombongan itu ada juga beberapa turis mancanegara. ada yang berwarga australia, jepang, ada juga 3 anak kecil yang semuanya jago bahasa inggris -_-. Wisatawan laki-laki yang tua sempat berbicara denganku. saya gak tau apa yang dia bicarakan. pokoknya cara bicaranya mengingatkanku pada kegagalan test listening TOEFL. ada pun salah satu anak si bule ngomong juga ke saya yang kali ini saya paham maksudnya, yaitu “kita lewat dimana?” . Dengan gagahnya aku bilang “There” sambil nunjuk lorong kapal.

Oke, lanjut di perjalanan, setelah melewati dermaga paotere yang airnya hitam pekat , akhirnya perlahan air laut yang terlihat mulai jernih, biru muda, dan finally udah biru tua yang menunjukkan kedalamannya masing-masing. sempat saya bertanya sama salah 1 dari 40an penumpang di kapal, “berapa lama itu ke cangke?”, “kira-kira 3 jam”. hamma’ , ehh waduhh, 3 jam di atas kapal dengan matahari terik, sepertinya ini badan tinggal diolesin garam udah bisa jadi ikan kering. tak apa, itu sudah nasib yang harus saya jalani. lagian ada banyak hal yang bisa dilakukan, berbicara dengan kenalan baru, curhat tentang thesis yang gak kelar-kelar dengan si baizul, hingga sedikit dibuat termenung oleh kuasa ALLAH yang telah menciptakan Bumi yang begitu besar dan indah ini dengan lautan yang sangat luas.

Tak jarang di perjalanan di laut saya disuguhkan dengan penampilan ikan terbang yang seolah-olah memamerkan keahliannya yang melompat dari dalam laut ke udara. tak jarang juga saya melihat pasangan burung laut (tidak tau spesiesnya) yang saling beterbangan seolah-olah ingin mengeledekku “emang kamu bisa diburu ama pasangan ?” -_- . tapi, yah nikmati saja tingkah hewan-hewan itu. mereka semua special.

1.5 jam sudah berada di kapal sambil memegang apa saja yang bisa dipegang untuk jaga-diri biar gak terbuang dari kapal, akhirnya sampai di sebuah pulau. saya lagi-lagi bertanya dengan polosnya ke pak nahkoda, “pak inimi yang dibilang pulau cangke?”. dengan tatapan yang meyakinkan beliau bilang , “bukan, ini pulau lankadea”. wuih , keren, airnya jernih, ukurannya tak jauh berbeda dengan pulau jin kura-kura (serial dragon ball), sepi, banyak pohon, pasirnya putih, cuma terdiri dari 1 bangunan itupun lebih mirip seperti mesjid sebenarnya. kapal singgah kesana karena ternyata ada beberapa penumpang yang ingin kesana (ceritanya kapal lagi transit). sambil menunggu proses turunnya penumpang, beberapa penumpang lain yang ingin ke cangke melanjutkan tradisi yang lagi ngetren saat ini, iya “SELFIE”. semua sibuk pasang gaya, sementara saya masih sibuk dengan mencari objek foto, dan saya menemukan dermaga rusak. sepertinya bagus untuk dijepret. :)

Pulau Lankadea

Pulau Lankadea

Oh, iya sebelum mencapai pulau lankadea, saya pun menemukan banyak pulau-pulau kecil lainnya yang tersebar di selat makassar ini. mulai dari pulau yang berpenghuni, tidak berpenghuni, sampai pulau yang hampir jadi pulau. lah, maksudnya pulau ini kadang tenggelam, kadang juga muncul. mungkin beberapa gugusan inilah yang disebut dengan spermonde.

Okeh, lanjut lagi perjalanannya. kali ini “kencan Ombat”. maksudnya ombaknya kencang. kali ini kapal telah terombang-ambing, mungkin sama ketika si doi menyuruhku install laptopnya, tapi ternyata yang saya install itu laptop pacarnya (curhat). saya pun benar-benar dipaksa untuk memegang lebih erat lagi kapalnya. tak jarang bagian depan kapal seperti terbang , tak menyentuh air (coba bayangkan). hampir selama 30 menitan saya rasakan momen itu.

dan akhirnya, sebuah pulau kecil , dengan berlatar biru awan, beralas pasir putih, dan berhias beraneka ragam warna daun pohon yang hijau, orang, dan kecoklatan. gradasi warna laut di pantainya pun sangat nampak jelas perbedaan warnanya. ternyata sudah sampai di pulau cangke. apes, ternyata kapal tidak bisa sampai ke dermaga karena bisa nyangkut oleh karang. terpaksa turun ke laut dengan kedalaman hampir sepinggang. jarak yang ditempuh untuk berjalan kaki dari kapal ke daratan sekitar 40 meter dengan rintangan untuk tidak menginjak terumbu karang (karena pertumbuhan terumbu karang cuma 1 cm dalam 1 tahun), dan juga tidak menginjak bulu babi (ya iyalah). 😀

Dermaga Pulau Cangke

Dermaga Pulau Cangke

yah, segitu saja dulu untuk part perjalannya. nanti saya coba lengkapi lagi :)

Profile photo of awalone

About awalone

Tholibul Ilmi, sang JOLANG (Jomblo Petualang), Suka Anak-anak (Bukan Phedo), Demen ama yang berhijab besar, Suka dengan Sunrise, Senja dan Awan, Paling geli kalo ada yang bilang gagah (karena sangat jarang), Pekerja Keras, Programmer System WannaBe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>