Masjid “Kolam Ikan” Andi Djuanna

Masjid, berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah, yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Di Indonesia, terdapat beberapa masjid yang didirikan dengan penuh ciri khas dan keunikan tersendiri. Tujuannya tidak lain untuk menarik minat para jemaah untuk bisa berbondong-bondong sholat berjamaah, ataukah sekedar berkunjung untuk melihat kebudayaan di masjid tersebut. Ada masjid Muhammad Cheng Ho dengan nuansa Tionghoa nya di surabaya. Ada juga masjid An Nurumi di Solo dengan arsitektur ala rusianya. Di sulawesi selatan sendiri, terdapat Salah satu masjid yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya berupa terdapat kolam ikan tepat di bawah masjid tersebut. Masjid itu bernama Masjid Andi Djuanna yang terletak di kabupaten Barru.

Masjid Andi Djuanna Barru
Masjid Andi Djuanna Barru

Tepat 5 KM dari pusat kota barru, terdapat sebuah masjid terapung yang terletak di samping jalan poros barru-pare-pare. Masjid yang didirikan sekitar tahun 1990 dan 1991 ini mempunyai ciri khus berupa kolam ikan yang tepat berada di bawahnya. Setidaknya terdapat ribuan ikan mujair dan mas yang dihuni di kolam itu dengan hiasan bunga teratai.. Karena jumlah ikannya yang semakin banyak, Ikan-ikan yang ada di masjid itu pun kadang di jual juga dengan harga 5000 rupiah per ekornya.

Ikan air tawar di kolam Masjid Andi Djuanna
Ikan air tawar di kolam Masjid Andi Djuanna

Untuk merasakan lebih dekat dengan ikan-ikan tersebut, pengurus masjid juga menyediakan stand pembelian pakan ikan dengan harga 1.000 rupiah per bungkusnya. Banyak pengunjung (warga sekitar dan para Safar), utamanya anak kecil rela bermanja di hadapan orang tua mereka untuk dibelikan pakan ikan tersebut. Dan benar saja, keceriaan mereka semakin muncul ketika ribuan ikan tersebut berdatangan menghampiri mereka.

Jumlah pengunjung paling ramai adalah pada hari sabtu di sore hari. Khusus di hari itu, pembelian pakan ikan ini bisa habis setengah karung. Adapun hasil dari pembelian pakan ini akan digunakan pengurus masjid untuk beberapa keperluan, seperti Membayar rekening listrik, Intensif pegawai masjid, keperluan transportasi untuk para da’i dan khatib, perawatan prasarana masjid dan untuk mengelola ketersediaan pakan ikan di hari berikutnya.

Kotak pakan ikan Masjid Andi Djuanna
Kotak pakan ikan Masjid Andi Djuanna

Di sisi belakang masjid juga tak kalah kerennya, terdapat kawanan bunga teratai yang saat itu masih kuncup. Mungkin tinggal kodok nya saja yang kurang di taman teratainya itu. Sedangkan di samping masjid, terdapat beberapa gazebo yang digunakan beberapa pengunjung untuk beristirahat dan makan siang.

Bunga Teratai
Bunga Teratai

Untuk Dokumentasi video, bisa dilihat pada tautan youtube di bawah atau pada link berikut :

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .

Syahadat Sang Muallaf

Selasa, 25 Februari 2014. Lelah dan ngantuk setelah beraktivitas seharian di 2 kampus yang berbeda. Kampus pertama adalah UNHAS untuk kepentingan bimbingan tugas akhir yang ternyata saya lupa bawa draft dan Kampus kedua adalah UIN Alauddin, untuk menghadiri rapat yang ternyata rapatnya juga tidak jadi. Kebetulan tiap selasa malam diadakan taklim di sebuah masjid di pusat kota dekat toko Al*ska. Saya lumayan cepat tiba disana agar bisa curi waktu untuk tidur-tiduran (walau tidur di waktu ashar sangat tidak dianjurkan).

Adzan maghrib pun berkumandang, untungnya tidur di masjid, jadinya “terpaksa” bangun. Kalau tidurnya di rumah, mungkin jam 12 malam baru bisa bangun. Jemaah pun banyak berdatangan untuk menunaikan masjid ditambah niat mereka juga untuk mengikuti taklim.

Usai sholat maghrib, Imam Masjid mengumumkan bahwa ada seorang “kafir” ingin masuk islam. “Wah, kejadian langkah nih!”. Buru-buru saya mengambil handphone bermodal kamera untuk merekam prosesi sakral ini. Di depan pintu tampak seorang lelaki yang berfisik mirip seperti saya (kurus) dengan baju koko putih dan celana model “botol”. Nama lelaki itu adalah Fery.  Perlahan lelaki yang didampingi walinya itu duduk di tengah-tengah para jemaah yang sebelumnya sudah membentuk setengah lingkaran.

Apa alasan saudara ingin memeluk Islam?“, tanya Imam Masjid secara “curiga”. Wajar saja sang Imam harus merasa curiga terlebih dahulu mengingat banyak kasus seseorang yang pura-pura masuk islam sekedar untuk bisa menikahi wanita pujaannya yang beragama islam, yang bila mereka menikah nantinya sang wanita akan di”murtad”kan atau dimasukkan ke agama asal sang lelaki.

Sekali lagi saya tanyakan, Apa yang melandasi saudara ingin masuk Islam?“, Imam pun bertanya lagi. “Yang mendasari saya ingin masuk islam, saya ingin mengenal lebih dekat tentang islam, dan ingin mengetahui apakah agama islam itu benar atau tidak“. Sang calon Muallaf pun menjawab dengan agak deg-degan.

Nanti setelah itu datang saja kesini untuk belajar-belajar islam secara dasar , nanti akan kami bimbing“, sang Imam mencoba memberi arahan berikutnya dan berharap calon mu’allaf untuk tidak “putus” hanya sekedar mengucapkan syahadat saja tapi tidak melanjutkan untuk menuntut ilmu syar’i.

Saudara Fery, ikuti saya! BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM“, imam pun mulai memberi arahan. “BISMILLAHIRAHMANIRAHIM“, jawab lelaki itu dengan lafadz yang memang bukan seperti ucapan basmalah pada lazimnya.

********************** dan detik-detik hijrah pun itu tiba **********************

Imam : “asyhadu alla ilaha illallah
Fery : “ashadu alla ilaha illollah
Imam : “asy ! bukan as . Karena maknanya bisa berbeda.
Fery pun berusaha mengulangi pelafalan yang tepat sampai 2 kali. kemudian imam pun melanjutkan lagi
Imam : “Wa asyhad anna muhammadarrasulullah“.
Fery pun berusaha mengulangi dan membalas “Washadu” sampai 2 kali. Imam pun dengan sabar mengulangi pelafalan “Wa asyhad anna muhammadarrasulullah” hingga si fery dengan mantap melafalkan 2 kalimat syahadat secara lengkap.
Imam : “Aku Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH“.
Fery : “Aku Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH“.
Imam : “Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad Nabi dan Rasul Allah“.

Imam, para jemaah, dan saya sendiri yang menyaksikan prosesi ini dengan lantang mengucapkan “ALLAHU AKBAR“. Bergetar, dan tangis tentunya mengalir mendengar ucapan syahadat dari akhi ini. Walau lafaznya agak berbeda dan sedikit terbata-bata, setidaknya dia benar-benar sudah berhijrah. Sejujurnya, saya iri dengan si Fery ini.

Sang Imam pun menawarkan untuk si Fery apakah ingin “menambah” nama atau “mengganti” nama. Ada tawaran namanya diganti dengan “Yusuf” atau ditambahkan “Muhammad”. Salah satu Imam menjelaskan keutamaan memiliki nama “Islami” yang baik salah satunya adalah mempermudah di saat Hisab.

Setelah melalui perundingan dan mungkin adanya “gejolak batin” di pikiran sang Muallaf, akhirnya dia memutuskan untuk menambahkan saja kata “Muhammad” di depan nama aslinya menjadi “Muhammad Fery”. Sekedar informasi, Nama lengkap di KTP beliau tidak berubah, Nama baru yang islami ini hanya digunakan untuk pergaulan dan menandakan keislamannya.

Prosesi Pengucapan dua kalimat syahadat
Prosesi Pengucapan dua kalimat syahadat

Di sesi terakhir, pengurus masjid memberikan sebuah mushaf dan terjemahnya untuk sang muallaf untuk dipelajarinya sambil menyarankan untuk Muhammad Fery mengikuti pengajian dan taklim rutin yang diadakan di masjid tersebut.

ALLAHU AKBAR

About awalone

suka jalan-jalan, suka melakukan semuanya sendiri 🙂 .