Proses Tuang Gula Merah

Bulukumba, yang saya tahu adalah ammatoa di kajang, perahu phinisi di tanaberu, tanjung bira bontobahari, kebun karet lonsum, dan musim buah-buahan bak kerikil di jalanan setiap bulan februari hingga april di sepanjang tanete. Sampai akhirnya saya temukan lagi satu potensi besar yang ada di kabupaten ini. iya, di sebuah kampung Herlang , merupakan penghasil nira kelapa terbesar (selain selayar dan jeneponto) yang merupakan bahan baku pembuatan gula merah di sulawesi selatan. Nira kelapa ini digunakan penduduk untuk membuat gula merah, berbeda dengan di kabupaten jeneponto yang biasanya memanfaatkan Nira ini sebagai minuman khas Ballo’.

Sabtu , 22 september 2014 lalu bisa jadi salah satu hari dimana aku bisa banyak mendapat ilmu baru. Gula Merah yang selama ini hanya bisa saya kenyot, akhirnya saya punya kesempatan untuk bisa melihat proses pembuatannya dari penyadapan nira kelapa (tuak) hingga proses pencetakannya.

Oh, saya lupa memperkenalkan junior di kampus , Jusman, begitu panggilan akrabnya mencoba memandu dan menjelaskan kepada saya dan teman yang lain (panggil saja dengan sebutan “kami”) tentang cara cara proses pembuatannya. Adapun penjelasan si jusman malah menambah kosakata baru dalam otak saya, seperti tuak, pippili’, mettepe, rakki’, dan manisang.

Awal dari pembuatan gula merah adalah proses penyadapan nira kelapa. nira kelapa yang disadap selama setengah hari ini dikumpulkan di sebuah jerigen yang diikat di batang pelepah niranya. 1 pohon kelapa yang disadap selama setengah hari kadang hanya menghasikan tidak lebih dari 1/4 isi jerigen. oh iya, oleh penduduk sini sari nira ini dinamakan dengan sebutan “tuak” karena memang nira ini biasa disajikan sebagai minuman ballo’.

Setelah sari nira (tuak) terkumpul, tiba saatnya untuk melakukan proses memasak yang prosesnya sekitar 4 jam. nah, tuak yang mendidih ini dinamakan sebagai “manisang”. kalau ingin meminum manisang ini, sebaiknya tunggu sampai dingin dulu, soalnya saya pernah coba versi yang mendidih dan rasanya benar-benar “melepuh”. pada saat melakukan proses memasak nira dan mulai muncul banyak busa, jangan lupa untuk menaburkan kelapa parut yang sudah disangrai ke dalam wajan agar buih nya tidak sampai tumpah (agar tidak mubassir).

Belum yakin apakah nira yang dimasak udah jadi gula atau belum ? ada yang namanya proses “mattepe” yaitu proses untuk menguji apakah gula merahnya sudah jadi atau belum. bila hasil nira yang dimasak sudah menjadi merah, coba lah untuk mengambil sedikit air yang ada di wajan, kemudian masukkan ke dalam air. Bila nira yang dimasukkan sudah mengeras, maka gula merahnya sudah jadi. 😀

Proses Mengaduk Gula Merah dan So'ri

Proses Mengaduk Gula Merah dan So’ri

Langkah berikutnya ada 2 pilihan, yaitu apakah kita ingin membuat so’ri, ataukah ingin lanjut ke proses pengadukan gula merah. so’ri sendiri adalah olahan gula merah yang dimasak tanpa proses pengadukan. jadi gula merah tadi langsung dikeringkan saja, dan sifatnya sangat lengket seperti karamel. penduduk setempat menilai itulah keunikan dari gula merah, bila di aduk gula merahnya mengeras, sedangkan kalau didiamkan maka gula merahnya bersifat lengket.

Proses Pencetakan Gula Merah

Proses Pencetakan Gula Merah

Oke, untuk opsi kedua, yaitu melanjutkan ke proses pencetakan, cukup aduk dulu gula merahnya tadi dan segera tuang ke bambu pencetak (kebetulan gula merah disini bentuknya silinder jadi pakai bambu). proses pengeringan gula merah hanya sekitar 5 menitan saja. sisa-sisa gula merah yang ada di wajan yang mulai mengeras disebut dengan “rakki” , teksturnya lembut dan berpasir. sedangkan sisa-sisa pada proses pencetakan yang “keluar jalur” dari pencetak disebut dengan pippili’, biasa dijadikan cemilan.

Jenis-jenis Olahan Gula Merah

Jenis-jenis Olahan Gula Merah

kalau merasa pusing dengan bacaan di atas, lihat aja deh video ini 😀

Setelah merasakan semua proses dan mencicipi bagian-bagian dari proses pembuatan, saya jadi sadar, ini lebih manis dari gula merah yang saya cicipi di kota sebelumnya.

ya, ketika saya bisa merasakan cara pembuatannya dari proses penyadapan nira kelapa hingga proses pencetakannya.
ya, ketika saya bisa merasakan manis dan harumnya nira kelapa yang mendidih.
ya, ketika saya bisa merasakan lengketnya karamel gula merah.
ya, ketika saya mengetahui istilah-istilah baru dalam proses pembuatannya seperti tua’, manisang, so’ri’, rakki’ maupun pippili’.
ya, ketika saya bersyukur bahwa ada dari mereka yang begitu tawakkal dalam mencari rejeki, mereka mengharapkan kelapanya tetap subur untuk bisa menghasilkan nira kelapa.

Mungkin sama seperti nikmatnya orang beribadah karena mengetahui dalil dari pada beribadah hanya sekedar mengikuti gerakan2 imam.
hmmm, mungkin yang terbaik adalah ketika kamu mengamalkan ilmu, bukan sekedar mengamalkan tanpa dasar ilmu.

 

Profile photo of awalone

About awalone

Tholibul Ilmi, sang JOLANG (Jomblo Petualang), Suka Anak-anak (Bukan Phedo), Demen ama yang berhijab besar, Suka dengan Sunrise, Senja dan Awan, Paling geli kalo ada yang bilang gagah (karena sangat jarang), Pekerja Keras, Programmer System WannaBe.

  1. Keren, Om. Pernah ka’ juga mosting soal gula merah ini waktu KKN. Kalau di Enrekang di perbatasan Sidrap itu masih ada juga pembuatan gula merah secara tradisional, kalau di daerah Mangkawani kalau ndak salah ada pembuatan kolang kaling (tradisional juga).

    View Comment
  2. dari proses pembutan gula merah di atas itu adalah salah satu penghasilan terbesar masyarakat di herlang kab: bulukumba provensi sul-sel. dan itu pula yang di kerjakan oleh keluarga saya. dari hasil itulah saya bisa bersekolah dan kuliah sampai sekarang dan Alahamdulillah banyak juga yang boleh di kata mampu/kaya dari hasil pembuataan gula merah yang terbuat dari nira kelapa..
    thanks..

    View Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>